Minggu, 30 Oktober 2016

Kampung Muluy : Jalan-jalan dan Belajar Kepada Mutiara Yang Tak Tampak


Jejak juga disini, Bersama Tim Jejak Budaya Kaltim

   Jangan Hilang (Tradisi Hebatmu), Kampung Muluy



Foto Bersama Jejak Budaya Kaltim & Penduduk Kampung Muluy
    Kampung Muluy dimana itu? Pastinya sebuah pertanyaan yang akan terlontar jika mendengar nama itu. Kampung Muluy adalah sebuah kampung yang lumayan jauh dari keramaian, suasananya masih sangat erat dan mengandalkan alam sekitar. Lokasi kampung yang berada di lembah perbukitan dimana salah satunya adalah Gunung Lumut (sebuah wilayah yang memegang peran penting dalam kearifan Kampung Muluy). Kampung ini berada di wilayah Desa Suan Slotung, Kecamatan Muara Komam, Kabupaten Paser, Provinsi Kalimanan Timur. Jarak dari ibukota kabupaten Paser yaitu Tanah Grogot diperkirakan ± 120 Km, adapun jarak terdekat Kampung Muluy dengan desa induk (Suan Slotung) sekitar ± 18 Km (dengan jalan yang rusak parah ditambah jembatan penghubung yang roboh), sedangkan jarak dari Kampung Muluy dengan jalan raya beraspal sekitar ± 60 Km (ke arah simpang Lombok - simpang Pait sebagai Pusat perbelanjaan, wilayah Kec. Longikis) Hal ini memaksa penduduk kampung Muluy lebih memilih melakukan aktivitas perekonomian di daerah simpang pait Kecamatan Longikis.
   
Aliran Sungai Muluy
     Nama kampung Muluy diambil dari sebuah nama aliran sungai, yaitu Sungai Muluy yang terdapat di wilayah kampung itu, dimana sungai ini berperanan penting dalam kehidupan mereka. Hal ini terlihat dari beberapa aktivitas pokok penduduknya dalam hal sumber air bersih ataupun keperluan mandi, namun peran yang lebih menonjol dari sungai tersebut adalah sebagai mata pencaharian sebagian penduduk karena terdapat sumber daya alam, kandungan mineral emas. Dengan adanya potensi ini penduduk setempat tak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada, mereka melakukan penambangan secara tradisional untuk mata pencaharaian mereka selain karet. Proses penambangan disebut mendulang, adapun proses penambangan  tradisional ini, warga menggunakan sebuah alat berupa atau mirip wajan yang berdiameter kira-kira 60 cm yang biasa terbuat dari kayu atau dari pipa besar yang dibentuk sedemikian rupa menyerupai bentuk wajan. 
Warga yang mencari emas dengan alat sederhana bernama Dulang
Alat ini bernama dulang yang mana alat ini berfungsi untuk mengayak emas atau memisahkan emas dari pasir/tanah sebelum diberi air raksa (yg berfungsi untuk menyatukan bijih-bijih emas menjadi lempengan emas). Kegiatan ini dilakukan dengan cara mengambil pasir yang diperkirakan terdapat kandungan bijih emasnya dengan melihat tanda  tertentu dari pasir atau tanah tersebut, kemudian pasir dimasukan kedalam dulang dan diayak diatas air (sungai muluy). Tentunya kegiatan menambang secara tradisional (mendulang) ini hanya boleh dilakukan oleh penduduk setempat sedangkan orang luar daerah dilarang secara adat untuk melakukan penambangan disekitar kampung. Hal ini dimaksudkan agar yang memanfaatkan potensi alam disekitar wilayah kampung hanyalah penduduk asli, ini juga dimaksudkan agar tidak terjadi kerusakan alam dalam skala besar jika ada penambang dari luar yang notabene hanya menginginkan hasil saja tetapi tidak bertanggung jawab atas kerusakan parah yang ditimbulkan.
     Ketika berkunjung disana saya bersama-sama tim Jejak Budaya kalimantan Timur yang digawangi Bang Cikal dkk, saya tergabung dalam kumpulan Jejak Budaya sebagai partisipan saja pada kegiatan itu, selama 2 hari 2 malam kami berada di sana. Langsung saja kita cerita, ya? hehehe...ya, Tepatnya pada tanggal 16 september 2016 sekitar pukul 14.00 wita seperti tanggal yang disepakati bersama untuk keberangkatansemua rombongan berkumpul di simpang lombok desa simpang pait sebagai tempat starting point. Satu persatu pun merapat di tempat yang sudah ditentukan tersebut, setelah berkumpul dan perkenalan satu sama lain terjadi secara spontan antar peserta. Dari yang belum saling mengenal menjadi satu kesatuan, kita membaur dan mulai timbul keakraban diantara para peserta yang sama-sama akan berkunjung kesana. Pemuda dan pemudi dari berbagai daerah yang ada di kaltim pun ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut, ada dari rombongan Tenggarong, Samarinda, Balikpapan, Tana Grogot, Batu Kajang, Bontang dan saya bersama Albert Venansius mewakili sahabat-sahabat Kalbar (hehehehehe padahal saya stay di Samuntai sebuah desa wilayah Kab. Paser sedangkan Albert stay di Balikpapan tapi memang kami dari kalbar yang ketemu di perantauan Kaltim ini). Dari bebagai asal para pemuda yang ambil bagian dalam kegiatan tersebut membaur menjadi satu kesatuan Jejak Budaya Kaltim. Namun pada hari keberangkatan tersebut Tim utama Jejak Budaya (bang Cikal dkk) berangkat belakangan dikarenakan mempersiapkan beberapa peralatan yang masih belum rampung. Ouh ya, kegiatan ini sudah tercatat sebagai agenda wisata budaya karena hal ini melibatkan beberapa orang yang memang mempunyai akses untuk memperkenalkan pariwisata maupun budaya yang ada di Kaltim seperti melibatkan Duta Pariwisata Kaltim tahun 2016 dan Mister Indonesia Kaltim 2016 (Maaf  kalo salah Tahunnya, heee). Dimulai dari tempat starting point kami memulai perjalanan, tak terasa letih atau putus asa selama 3 jam perjalanan. Hal ini dikarenakan sepanjang perjalanan kami disajikan pemandangan alam yang jarang kami temui, kesemuanya menyegarkan  mata. Dalam perjalanan ini kami mengikuti jalan tanah yang sedikit berbatu dengan jalan berkelok dan terkadang kami berjalan diatas bukit yang tinggi dimana sisi kanan adalah jurang yang sangat curam. Sesekali kami temui burung Enggang bertenger atau terbang di antara pepohonan yang tinggi menjulang. Ouh ya ada pula suatu pemandangan yang menyedot perhatian kami ketika melintasi sebuah bukit diseberang jalan, ya sebuah pohon yang berbeda diantara pohon lainnya. 
Warna daun yang langka, merah menyala
Sebuah pohon yang mempunyai daun berwarna merah menyala mencolok diantara warna daun yang lainnya. Daun berwana merah menyala notabene kontras dengan warna daun kebanyakan yang kita tahu berwarna hijau tua atau hijau muda. Lengkap memang perjalanan menuju ke kampung ini selain jalanan yang menantang, jalanan berlumpur, turun naik bukit, pemandangan alam liar yang mempesona dan keunikannya, serta (tentunya) aura kesegaran karena udara yang belum terkontaminasi. Tak terasa perjalanan yang kami tempuh, lelahpun terbayarkan bahkan masih menyisakan semangat membuncah untuk segera menyelesaikan perjalanan sampai pada tujuan kami yaitu Kampung Muluy.
  


    Keseruan itu terbayar ketika tepat pukul 18.13 Wita, kami sudah menuntaskan perjalanan dan sampai di tempat tujuan dengan selamat. Sesampainya disana kami langsung diarahkan untuk menemui bapak Jidan di kediamannya, yah sekali lagi kami tercengang karena lokasi rumah bapak ketua adatnya tepat berada di atas perkampungan atau dataran lebih tinggi yang mana tepat di halaman rumah beliau kami sudah bisa melihat setengah dari kampung Muluy.
Lokasi Halaman Rumah Ketua Adat (Bapak Jidan)

Setelah menemui bapak Jidan, beberapa teman sebagai perwakilan melakukan pertemuan singkat dengan beliau untuk mendengarkan hal-hal yang diperbolehkan atau pantangan di kampung Muluy. Negosiasi pun berlanjut sekitar 15 menit lamanya, dengan keputusan bahwa kami hanya dipersilahkan untuk memasang dome atau tenda disekitar halaman rumah atau lokasi kosong disekitar lingkungan perumahan warga, diluar dari itu kami tidak diperbolehkan karena jika terjadi hal yang tak diinginkan mereka tidak bertanggung jawab (karena ada pantangan adat dari adat kampung pada saat itu). Berdasarkan kesepakatan, kami semua sepakat untuk memasang dome hanya diseputaran lingkungan rumah ketua adat (Bapak Jidan). Satu persatu dome kami pasang dan beberapa perempuan dengan naluri kewanitaanya memasak untuk keperluan isi perut, setelah kesemua dome terpasang, barulah dimulai dengan acara bebas pada malam pertama kedatangan dikampung ini. Ada yang bermain gitar lele nya si Albert, ada pula yang bercengkerama satu sama lain sembari mengenal diantara anggota lebih dalam. 
M. Nafis (Aman Paser), V. Albert, Saya, S. Amin (Aman Paser), Freddy (BA dan Blogger)
Saya juga tak mau ketinggalan untuk mengenal anggota lainnya, mulai dari berkenalan dengan teman-teman pejuang masyarakat Adat Paser (AMAN Paser) yaitu Muhammad Nafis dan Syukran Amin yang keduanya merupakan saudara yang sangat akrab dan kompak. Salut untuk kedua sahabat baru saya ini, berjuang untuk memperjuangkan hak-hak masyarakat Adatnya. Selain kedua sahabat baru ini saya juga berkenalan dengan saudari Emy Erfansyah salah satu aktivis peduli budaya dan kesenian Paser, semangat dari ibu muda ini juga memotivasi saya untuk semakin antusias dalam kegiatan ini. selain teman-teman dari Paser ada juga teman-teman dari JB (Jejak Budaya kaltim) kang Juned, Upik, doni (sesama milanisti juga ternyata, hehehe) dan wulan dari Tukang jalan tapi kere, Arya dan Dony Lung rekan-rekan dari My Trip My Adventure (MTMA) Balikpapan dan Samarinda, serta Mapala Paser yang kesemuanya sangat asik dan welcome. Malam semakin larut dengan cuaca khas perkampungan lembah perbukitan yang dingin, satu persatu dari kami mulai memasuki dome atau tenda. Begitu juga saya dan Albert yang tendanya dipinjamkan kepada teman-teman perempuan yang tidak membawa tenda sehingga kami tidur beralaskan hamparan karpet bersama lelaki-lelaki tangguh lainnya (hehehehe tidur beratap langit). Dengan tidak mau ketinggalan saya memasang sleeping bag dan kupluk untuk menyiasati cuaca dingin dikampung Muluy. Suasana semakin senyap seiring larutnya malam ditambah keheningan yang mengiringi malam pertama kami di kampung ini, dan malam pun berganti disambut fajar.
   
Pose di waktu matahari mengintip tepat di atas G. Lumut
Fajar yang mulai merekah, langit yang juga terlihat mulai mengintipkan sinar mentari, seperti sebuah harapan yang timbul. Kombinasi langit dan sinar mentari menciptakan keindahan langit pagi,  beberapa dari teman-teman ada yang menjalankan sholat subuh, suasana yang tadinya lengang mulai terlihat ada pergerakan aktivitas. Sesaat suasana ini menjadi sedikit ramai dan saya pun terbangun dengan menyisakan kemalasan bangun tidur, sebagian dari para ladies ada yang sudah memulai memasak air panas untuk menyeduh minuman sachet yang dibawa masing-masing. Saya tidak mau melewatkan momen ini, dengan menghampiri tas/karier, saya buka saku depan tempat dimana menyimpan perbekalan, kemudian saya ambil beberapa minuman sachet tersebut dan minta bantuan untuk diseduhkan (qiqiqiqi asik serasa ada asisten pribadi). Pagi dan segelas kopi sachet turut menghangatkan suasana kebersamaan kami di kampung Muluy ini. Entah terkena sindrom selfie atau sayang melewatkan keindahan pagi dengan kombinasi sinar mentari yang merekah (memerah lembut khas langit pagi) kami berpose ria dalam keadaan belum mandi (tapi tetap ganteng dan cantik-cantik, hehehehe).  Tak berapa lama rombongan bang Cikal dkk sebagai anggota utama Jejak Budaya Kaltim dan diikuti teman-teman jalan-jalan Paser dibelakangnya pun tiba. Semakin rame dan memecahkan kegaduhan pagi yang terbiasa lengang. Sepi menjadi gaduh dengan bertambahnya personil yang baru sampai ini, ada mimik kegembiraan satu sama lain dikarenakan mereka yang punya gawean sudah hadir. Tak lama setelah kedatangan bang cikal dkk Saya dan si albert serta beberapa teman lainnya bergegas untuk mandi dan (maaf) buang hajat diseputaran aliran sungai Muluy, hal ini kami lakukan karena ketersediaan WC umum yang hanya satu (antri yang lumayan lama sedangkan perut sudah berontak mau dikosongkan, heeee). Ada hal menarik ketika saya membuang air, ya, lipatan samping antara kaki dan paha sebelah kanan atas saya di hinggapi 3 ekor pacet (sejenis lintah kecil yg menghisap darah). Dengan penuh kaget saya lepas satu persatu pacet yang menempel, ada yang sudah membesar badannya karena mungkin telah lama menyedot darah. Sebenarnya saya paling geli melihat pacet yang licin berlendir tapi berhubung saya sendiri yang mengalaminya sehingga saya beranikan diri melepaskannya satu persatu. Sontak beberapa teman ada yang terbahak mendengar kejadian ini dan ternyata teman saya yang bernama Arya dari MTMA Balikpapan juga mengalami hal yang sama tetapi pacetnya belum sampai menempel di kulit hanya disendalnya saja. Setelah selesai dengan urusan pacet saya mandi dan bersih-bersih diri begitu juga teman-teman lainnya (diselingi banyolan-banyolan konyol khas anak muda). Sesudah mandi kami kembali ke tenda untuk mengganti baju, dan beberapa ladiesnya sudah melakukan tugas mereka yaitu memasak untuk makan sarapan plus makan siang (hehehehe, sarapan dan makan siangnya dirapel). Rombongan memasak ini diketuai oleh mba Emy Efansyah dan beberapa sahabat Mapala Paser lainnya sedangkan rombongan lainnya memasak sendiri-sendiri, tetapi ada sedikit trouble atau kendala dalam memasak nasi dari teman-teman Paser yaitu beras yang dimasak volumenya kebanyakan sedangkan air untuk menanak nasi itu lebih sedikit sehingga perbandingannya tidak sesuai antara air dan beras (hal ini karena
belum terbiasanya mereka memasak dengan wadah penanak nasi menggunakan kayu bakar dan penanak nasi khas perkampungan). Naluri saya yang juga hobby memasak tersentuh untuk membantu, dengan sedikit kesigapan saya ikut membantu memasak nasi ini. saya pun melihat bahwa takaran beras didalam wadah harus dikurangi sedangkan air untuk memasaknya harus ditambah dengan sedikit menurunkan jarak antara api dan wadah memasak agar perapiannya sesuai untuk panas api. Alhasil, nasi yang ditanak ini berhasil matang dengan baik dan kendala pun bisa diatasi untuk pagi ini. saya senang melihat kekompakan dari teman-teman baru ini, sementara kami membereskan penanakan nasi yang hampir gagal, beberapa teman lainnya berinisiatif memasak sayur dan lauk yang ada sehingga nasi siap disajikan begitu juga lauk pauk sudah siap.
Makan Bersama teman-teman Jalan-jalan Paser
Ketika semuanya sudah siap dan matang, nasi dan lauk pauk yang sudah siap disantap diletakkan pada hamparan daun pisang yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Hal yang paling seru pun terjadi dengan mengatur posisi duduk (jongkok) dilanjutkan berdoa sesuai keyakinan masing-masing, santap makan rapelnya pun dimulai tanpa ada yang merasa jijik atau malu ketika makan bersama khas anak alam yang mengutamakan kebersamaan dan kekompakan (gak jelas entah sarapan atau makan siang, wkwkwkwkwk).
    Sinar mataharipun mulai menyengat pertanda siang hadir, berhubung kegiatan akan dilaksanakan pada sore hingga malam hari maka untuk siang ini diisi dengan acara bebas. Dengan cuaca yang sedikit hot, masing-masing dari kami mengamankan diri mencari tempat teduh, begitu juga saya yang berteduh dirumah kosong seputaran tenda. Makin siang makin terasa matahari menyengat kuat dikulit, beberapa teman bergelantungan  memasang hammock yang diikat kedua ujungnya pada pohon satu ke pohon lainya diseputaran tempat ngecamp sedangkan sebagiannya lagi membaur dengan penduduk kampung Muluy. Tak lama kemudian saya bersama rekan baru dari komunitas MTMA Balikpapan (Arya) beranjak dari tempat berteduh dan hendak bergabung dengan beberapa teman yang sudah lebih duluan membaur dengan penduduk. Setelah sampai pada sebuah warung disana kami temui ada beberapa teman yang bercengkerama sembari menikmati jajanan yang disediakan oleh warung tersebut.
Bercerita bersama Pak Jidan
Disamping itu juga ada Bapak Jidan selaku ketua adat setempat berbagi cerita tentang kearifan lokal kampung muluy. Beliau mengisahkan tentang bagaimana warga kampung dan ketua adat tetap bertahan pada sisa-sisa kearifan lokal yang masih tersisa. Ya dikatakan sisa-sisa kearifan lokal karena hanya beberapa saja yang memang masih dipertahankan sedangkan yang lainnya ditelan oleh perkembangan jaman dan masuknya agama baru. Ada kesedihan di raut wajah pak Jidan yang menceritakan hal itu, bagaimana tidak tradisi turun temurun yang merupakan warisan leluhur menjadi hilang dan tidak ada penerus untuk melanjutkan. Tersisa hanya instrumen-instrumen/peraga, atribut ataupun cerita saja mengenai tradisi yang sudah beralih itu. Tradisi tersebut hilang karena pengaruh budaya Agama yang sedikit bertentangan dengan tata cara mereka ketika masih mempertahankan tradisi tua itu atau sudah tidak sesuai jamannya lagi. Tradisi dalam hal ini adalah hal-hal yang berbau dengan Kepercayaan Animisme dan Dinamisme, untuk Animisme sudah hilang dan tak membekas sama sekali namun berbeda halnya dengan kepercayaan Dinamisme disana masih ada yang dipertahankan. Kepercayaan Dinamisme ini tampak jelas dari cara mereka mempertahankan Hutan Adat Gunung Lumut yang dipercaya mereka adalah ibu bagi masyarakat muluy. Saya tidak tahu persis mengapa Gunung lumut dianggap sebagai ibu bagi mereka namun berdasarkan pemaparan pak Jidan bahwa Gunung Lumut disakralkan demikian karena gunung tersebut memegang peranan penting dalam kehidupan mereka, kenapa begitu sakral? Hal ini dikarenakan mereka memperoleh berbagai sumber alam dari hutan Adat tersebut. Selain analogi pertama analogi lainnya adalah para leluhur mereka membuat Paradigma tentang Gunung lumut sebagai ibu bagi mereka karena seorang ibu akan menjaga anak-anak mereka (penduduk Kampung Muluy) dan begitu juga sebaliknya anak-anak (Penduduk Kampung Muluy) tidak mungkin untuk menyakiti ibunya sendiri. Saya sempat tergugah dengan dua Analogi hebat dari kampung ini, mengapa demikian? Karena menurut saya analogi kedua yang sangat menyentuh dan jadi pembelajaran untuk kita. Analogi kedua ini erat hubungannya dengan Simbiosis Mutualisme (Hubungan saling menguntungkan) yang mana Gunung Lumut menyediakan beberpa kebutuhan hidup penduduk dan penduduk tetap mempertahankan kaeasrian atau alaminya Gunung Lumut itu sendiri tanpa tersentuh oleh tangan para kapitalis. Dengan sangat tegas sekali pak Jidan selaku orang yang dipercaya mengemban tugas untuk menjadi pelecut semangat mereka dalam mempertahankan sisa kearifan sosial lokal yang ada ini. selain mempertahankan dan menjaga Hutan Adat Gunung Lumut ini sebagai kekayaan mereka, masih ada juga berapa tata cara kehidupan yang dikaitkan dengan  alam. Seperti disalah satu rumah yang  didiami oleh guru pengabdi (seorang guru muda yang baru bertugas) yang disediakan oleh warga (rumah eks warga yg tidak ditinggali), saya menemukan sebuah peraga sesajen yang sudah dimantrakan, tergantung pada tiang bulat melintang yang dulunya dipakai sebagai tiang untuk menyangkutkan tali ayunan bayi. Bentuknya seperti anyaman kecil untuk menyimpan sajen yang sudah di mantrakan/didoakan tersebut dan diberikan beberapa kelengkapan lain berupa kayu atau tulang/kepala burung Enggang. 

Boa Bebe Yang Digantung diatas ayunan Bayi
Nama peraga atau sesajen ini Boa Bebe (berdasarkan penuturan Bapak Jidan) yang berfungsi sebagai pelindung bayi yang masih suci dari gangguan mahkluk diluar manusia (jin, setan dan lain sebagainya) dan ada juga peraga lain digantung persis sama diatas gantungan ayunan bayi tersebut (masih menjadi bagian Boa Bebe) yaitu anyaman dari daun kelapa serta beberapa dedaunan lain yang diperuntukan sebagai pemberi hal positif kepada bayi. Kesemua itu mempunyai arti dan makna dalam kepercayaan mereka, Sekilas dijelaskan oleh Bapak Jidan bahwa Kepala burung Enggang dimaksudkan agar nantinya Bayi yang diberi gantungan memiliki sifat seperti Burung Enggang seperti Lambang Kebijaksanaan, Kesetiaan, Keagungan dan bersahaja. Begitu juga dengan Daun Kelapa yang melambangkan bahwa sifat pohon kelapa yang bermanfaat dari akar, batang, mayang (bakal buah), buah, daun serta lidinya, dengan harapan bahwa bayi tersebut jika sudah dewasa dapat bermanfaat kehidupannya bagi masyarakat setempat begitu juga dedaunan lainnya yang melambangkan pepohonan di Hutan Adat Gunung Lumut yang dapat memberikan sumber kehidupan. Namun beda halnya dengan sajen yang disimpan dalam anyaman bambu yang telah dimantrai/didoakan tersebut dimaksudkan untuk melindungi bayi tersebut selama diayunan.
selain kepercayaan pada alat peraga yang melindungi, mereka juga masih menggunakan beberapa cara membaca kode-kode atau tanda-tanda yang diberikan oleh alam disekitar mereka, disana mereka akan memprediksikan bahwa akan terjadi sesuatu jika ada tanda-tanda tertentu seperti ketika ada bunyi dari binatang malam tertentu (yang jarang didengar) disekitar rumah mereka dianggap sebagai pertanda sesuatu. Tidak itu saja mereka mempercayai bahwa pada bulan-bulan tertentu mereka melakukan pantangan kampung untuk tujuan tertentu seperti akan membuka ladang. Ada beberapa pantangan yang harus ditaati oleh mereka, salah satunya adalah selama masa pantangan tersebut untuk tidak memasuki hutan Adat Gunung Lumut, jika ada yang melanggar maka disekitar Hutan Adat maupun wilayah mereka akan dituruni hujan terus menerus, hal ini mengakibatkan terganggunya proses pembukaan ladang (penebangan dan membakar ladang). Beginilah kearifan Lokal masyarakat yang masih terjaga dan cara mereka memelihara Hutan Adat. Setelah mendengarkan pemaparan pak Jidan dengan seksama dan antusias (cerita itu diakhiri Bapak jidan karena beliau harus kesalah satu rumah warganya untuk merundingkan kegiatan malam nantinya), saya dan beberapa Tim Jejak Budaya pun bergegas mendirikan kerangka layar untuk pemutaran film untuk malam harinya (film bersifat Edukasi bagi warga untuk tetap mencintai NKRI meski berada jauh dari pusat pemerintahan dan modernisasi). Setelah pemasangan kerangka itu selesai maka kami lanjutkan dengan mempersiapkan diri masing-masing untuk acara malamnya.
     Tak terasa matahari pun makin merendah seolah akan tenggelam di balik perbukitan, kami bergegas ke sungai Muluy untuk mandi dan membersihkan peralatan masak. Bercanda gurau tak bisa dielakan oleh semua anggota yang sudah mulai akrab, sehingga tercetus bahasa olok-olokan untuk mereka yang perutnya maju alias buncit.
Awal tercetusnya ALIANSI PERUT MAJU (APM) hehehehe
Setiap yang berbadan tambun dan perut buncit dikategorikan APM (apa itu APM ?....hehehehe...APM = ALIANSI PERUT MAJU). APM ini tercetus oleh Ujang salah satu anggota Jejak Budaya yang tergolong paling gokil. Setelah senda gurau dan kehebohan tercipta sebagai pengiring sore di sungai muluy, satu persatu membersihkan diri dan pergi meninggalkan sungai. Sesampainya ditempat camping, masing-masing dari kami mempersiapkan diri untuk acara ramah tamah dengan warga setempat. Matahari pun makin pelit memberikan cahayanya dan menyembunyikan diri dibalik bukit seolah akan beristirahat setelah seharian menerangi bumi dan berganti gelap malam. Lampu generator kampung sudah dinyalakan sehingga mulai menerangi kampung sekitar (ouh ya lampu generator dihidupkan pada jam-jam tertentu saja yaitu pada malam hari dari pukul 18.00 – 23.00 Wita) warga sudah mulai berkumpul di tengah kampung  tepat dihadapan settingan  layar putih untuk pemutaran film (ketika masih kecil kami menyebutnya layar tancap. hehehehe)

Untuk mempersingkat waktu, acara dimulai oleh ketua Jejak Budaya yaitu bang Cikal dengan kata sambutannya dan menjelaskan maksud serta tujuan  Jejak Budaya mengunjungi Kampung Muluy ini. setelah selesai memberikan kata sambutan acara dimulai dengan memutar dokumenter terbentuknya Tim Jejak Budaya ini, tak berapa lama setelah pemutaran film dokumenter tim Jejak Budaya memberikan sumbangan berupa peralatan alat tulis dan pakaian layak pakai sumbangan dari anggota yang ikut dalam kegiatan ini dan tak lupa sesi foto penyerahan sumbangan dan foto bersama warga dan Tim Jejak Budaya. Acara ini ditutup dengan sesi foto bersama dan dilanjutkan dengan film bertema cinta tanah air yang berjudul Tanah Surga (Katanya) yang dibintangi oleh Ringgo Agus Rahman, Astri Nurdin, Osa Aji Santoso dkk, film ini berlatar belakang di daerah perbatasan RI - Malaysia tepatnya di kabupaten Sambas. Selesai pemutaran film ini acara dilanjutkan dengan persembahan tarian dari warga kampung Muluy yang diiringi musik gambus dan gendang yang sederhana. 
Tarian Selendang Mutiara
Tarian kedua Tarian Selendang Mutiara

Tarian yang disuguhkan mereka merupakan tarian penyambutan dan tarian persahabatan, tarian penyambutan ini mereka sebut Tarian Selendang Mutiara. Sebenarnya tidak ada perbedaan antara kedua tarian ini dari segi gerak namun dari segi personil tari terdapat perbedaaan jumlah. Tarian Selendang Mutiara ini ditarikan oleh dua atau 4 penari (sewaktu disana ada dua kelompok penari masing-masing beranggotakan 2 orang) yang mana ditarikan oleh gadis atau perempuan. Sedangkan tarian persahabatan yang gerakannya sama dengan Tarian selendang Mutiara namun ditarikan oleh lelaki dan perempuan dengan mengajak beberapa tamu untuk ikut menari bersama mereka. Ouh ya, sebagai informasi tarian selendang Mutiara ini merupakan tarian yang sudah sangat jarang ditampilkan lagi oleh mereka bahkan tarian ini hampir punah karena dari tahun 1980an baru tahun 2010 keatas mereka mencoba menampilkannya lagi jika ada rombongan tamu yang berkunjung (sebagai informasi kampung ini sering didatangi oleh para peneliti budaya maupun lingkungan hidup) sehingga tarian ini dihidupkan kembali. Dan dengan bangganya kami disuguhi tarian ini meski dengan pengemasan yang sangat sederhana tetapi bermakna istimewa bagi kami terutama saya pribadi. Pada saat tarian persahabatan tak ketinggalan saya dan rekan-rekan yang lain ditarik untuk ikut tergabung menari bersama mereka. Keseruan pun menjadi pecah dan keceriaan terpancar dari orang-orang  yang berkumpul. Keceriaan makin bertambah ketika salah satu anggota jejak budaya mengajak nenek-nenek tua yang merupakan penari lama untuk ikut menari bersama, terlihat memang gerakan antara penari lama dan penari baru tetapi tidak menjadi soal karena hal istimewa sudah tersuguh oleh mereka dengan kesederhanaan namun sangat bermakna. Setelah tarian persahabatan selesai ditarikan, dan itu merupakan tarian penutup pada acara ramah tamah malam itu. Sebuah kenangan yang begitu mempesona bagi saya pribadi.
Saat seorang Nenek bersenandung diiringi Musik seperti Gambus
Ouh ya ada yang lupa untuk tarian tersebut diselingi dengan senandung dari seorang nenek yang notabene adalah Ibundanya bapak Jidan. Senandung yang sangat syahdu dan terasa sekali kekhasan senandung lama dari suara nenek tersebut (sangat luar biasa bisa melihat tarian yang hampir habis dimakan jaman kembali dimunculkan). Acarapun berakhir tetapi keceriaan masih terasa antara kami yang membaur dengan warga Muluy. Malam makin larut dan acara pun berhenti total ketika generator listrik dimatikan karena sesuai jadwal hidupnya penerangan, kesemuanya memberesi peralatan dengan segera mengakhiri malam yang luar biasa itu dengan istirahat karena keesokan harinya sebelum acara perpisahan masih akan diadakan beberapa kegiatan yaitu pengambilan foto untuk dokumentasi dan membersihkan kampung dari sampah plastik atau sampah tak terurai.
   
Sesi membersihkan sampah plastik (tak terurai) di kampung
Keesokan harinya kami bersiap untuk melaksanakan satu sesi kegiatan bersama yaitu membersihkan kampung dari sampah yang tak terurai dan beramai-ramai turun untuk melakukan kegiatan terakhir sebelum acara perpisahan dengan warga, setelah itu Tim Jejak Budaya mengajak penari Selendang Mutiara dengan busana tarian khas warga Muluy (Pakaian saat menari selendang Mutiara) lengkap untuk pengambilan foto dengan latar belakang sungai Muluy. Namun sebelum pengambilan foto dokumentasi saya yang menjadi ojek untuk mengantar para penari itu ke lokasi pengambilan foto, sembari "mengojek" saya bertanya tentang makam tua yang ada di kampung ini dan dengan senang hati salah satu penari yang saya bonceng bercerita tentang makam tua yang ada. Dan dia bersama teman penari lainnya pun bersedia mengantarkan saya dan beberapa rekan saya untuk memasuki lokasi pemakaman yang satu jalur dengan lokasi pemotretan. Ada beberapa pemakaman dari orang-orang tua (makam tua) yang saya abadikan karena saya anggap ini menarik dan jarang ditemui. Tak beberapa lama kami kembali ke lokasi pemotretan, selang berapa lama kami meninggalkan lokasi pemotretan itu karena tugas kami hanya mengantar saja. Kamipun yang bertugas mengantar bergegas untuk segera kembali ke lokasi camping untuk membereskan semua perlengkapan karena setelah pemotretan kami harus segera melakukan acara perpisahan dengan warga. Tak lama kemudian setelah kami membersihkan semua yang ada dan sampah yang tersisa dilokasi camping, bang Cikal dkk mengajak untuk melakukan kumpul bersama membentuk lingkaran sebagai acara terakhir dari kegiatan ini sebelum berpamitan kepada warga setempat, sepatah dua patah kata dari bang Cikal menutup kegiatan kunjungan kami ini dan tak lupa ditutup dengan doa serta dilanjutkan dengan kegiatan bersalam-salaman antar sesama peserta kegiatan. 

Sesi Foto Tim Jejak Budaya di kampung Muluy
Foto bersama peserta anggota Jejak Budaya pun tak terelakkan sebelum meninggalkan lokasi camping untuk berpamitan pulang dengan warga kampung dan dilanjutkan perjalanan pulang. Setelah jeprat-jepret selesai dan semua peralatan sudah siap kamipun menghampiri warga kampung Muluy untuk berpamitan. Semua anggota yang tergabung menyalami warga kampung tanpa terkecuali begitu juga saya, dan saya memberi bapak Jidan sebuah kaos saya sebagai kenang-kenangan bersama bapak Jidan dilanjutkan dengan saya berfoto bersama bapak Jidan yang terlihat mengeluarkan mimik sedih ketika akan berpisah. Dan kegiatan terakhir kami adalah berfoto bersama warga Kampung Muluy dengan membentangkan spanduk kunjungan kami di kampung ini yang bertema MERAJUT CINTA SESAMA ANAK NEGERI : KAMPUNG MULUY . Dengan berakhirnya foto bersama, berat hati kami melambaikan tangan kepada kumpulan warga yang melepas kami untuk meninggalkan kampung mereka, keadaan yang sangat emosional pada saat menarik gas sepeda motor kami untuk meninggalkan kampung terpencil yang mempunyai nilai seperti mutiara dalam mempertahankan yang tersisa. Kunjungan yang sangat istimewa bagi saya, yang baru pertama kali mengunjungi kampung ini, sebuah kampung yang jauh diujung bumi paser-kaltim terdapat suatu mutiara kehidupan yang begitu banyak menyimpan harta karun, bagaimana mempertahankan yang tersisa dan membuatnya menjadi berarti yang mampu menyedot perhatian khalayak ramai dengan rasa empati kepada mereka. Terlebih lagi cara mereka mempertahankan tetap alaminya Hutan Adat menyumbang kontribusi untuk dunia penelitian baik dari peneliti lokal maupun Dunia. Sungguh terpesona saya melihat semangat kampung Muluy untuk tetap mempertahankan dan menghidupkan kembali kebiasaan lama yang memberi manfaat untuk mereka dan dunia penelitian. Kunjungan penuh arti dan diakhiri dengan lambaian masyarakat kampung dan gagahnya gunung lumut seakan tersenyum melepas kepergian kami yang seolah berkata pada kami untuk datang lagi karena kami belum bersatu dengan gunung tersebut (belum mendaki gunung lumut yang kami harapkan). Sebuah cerita perjalanan yang akan saya simpan untuk mengenang perjalanan saya di Bumi Paser.    


Catatan  kecil : ouh ya berhubung ada pantangan kampung ketika kami berkunjung kesana jadi kami tidak berhasil untuk naik ke Gunung Lumut yang banyak menyimpan pesona alam dan keunikan hutan hujan tropis dipuncak Gunung tersebut. Terdapat air terjun dilokasi pegunungan Lumut dan keinginan untuk melihat tumbuhan yang batangnya diselimuti oleh lumut akibat suhu yang sangat pas untuk berkembangnya kehidupan lumut. Padahal tujuan kami yang pertama adalah melakukan treking di Gunung Lumut namun terbayar juga dengan pelajaran tentang cara menjaga dan mempertahankan alam serta kearifan lokal untuk menjaga yang tersisa. Kampung Muluy dan Pesonanya adalah hal yang paling bermakna kami dapatkan (Kecewa tapi terobati). Suatu saat aku akan kembali menuntaskan penasaran pada Gunung Lumut.

Dibuang Sayang :
Ekspresi Gila setelah menuntaskan perjalanan (Padahal masih 1/2 jam nyampe kampung, hihihihhi)

Foto bersama setelah penyerahan Donasi Pakaian layak Pakai
Tarian Persahabatan (bagian dari Tari Selendang Mayang)

Kata Sambutan Dari Bang CIkal (Ketua Jejak Budaya) membuka sesi ramah Tamah
Pemberian Buku Gratis untuk anak sekolah
Penari lama yang sudah sekian puluh tahun tidak menari (gerakannya saya suka, totalitas)
Itu yg pake sarung siapa ya?  MODUS wkwkwkwkw
Apa yang dilakukan Albert dan Dony Lung ini ? Entahlah hehehe
si Manda lagi nangkap Kodok, wkwkwkwkwk
Mukanyaaaaaa Upik , hihihihihi
mengunjungi Makam tua kampung Muluy (bersama penari selendang Mutiara)
Penunjuk arah angn milik bapak Jidan
Salah satu pemandangan yang jarang kami temui, rumah dibelantara

Anggrek Dendrobium Secundum, salah satu kekayaan alam Gunung Lumut 
Foto Bersama Bapak Jidan.
Senandung nyanyian pengiring Tarian selendang Mutiara

Terima Kasih teman-teman Jejak Budaya, Tukang Jalan Tapi Kere, Jalan-jalan Paser, AMAN Paser, MTMA Balikpapan dan MTMA Samarinda, Mapala Paser, para Aktivis, dan rekan-rekan yang tergabung lainnya. Saya pribadi banyak belajar dari kegiatan ini, semoga dengan semangat yang sama, kegiatan-kegiatan ini akan terus berlanjut dan berkembang atas nama kepedulian kepada sesama. Salam dari saya DAN, SANG JEJAK SETAPAK.....Kita akan bergabung pada kegiatan lain berikutnya.....

SALAM BUDAYA, SALAM RESPEK, SALAM LESTARI, SALAM PERSAHABATAN.


                      “MERAJUT CINTA SESAMA ANAK NEGERI : KAMPUNG MULUY”



KALTIM

  


Senin, 03 Oktober 2016

Kepulauan Derawan : Destinasi wisata yang Luar biasa dan Unik



Ke Derawan yuk? Asik Bener lhoooo, murah lagi (ala kami).........
 
Gerbang selamat datang di pulau Derawan
   Mungkin nama Derawan sudah sangat tidak asing lagi untuk dunia travelling. Ya, Derawan sekarang sudah menjadi destinasi wisata Dunia. Disana menyajikan spot-spot untuk snorkling ataupun Diving bagi para hobiis menyelam. Sajian karang tak kalah dengan spot-pot penyelaman dibagian Indonesia Timur yang sudah terkenal terlebih dulu, begitu juga variasi fauna laut yang ditawarkan bisa membuat kita enggan untuk pulang jika sudah nyemplung ke lautnya. Bayangkan kita bisa menemui ikan Pari manta, Hiu paus, atau juga Penyu Hijau. Untuk penyu hijau bahkan berbagi tempat dengan penduduk pulau khususnya di pulau Derawan itu sendiri, diujung pemukiman penduduk ada tempat yang dijadikan persinggahan para penyu untuk menitipkan telur agar “dijaga” penduduk.
   Selain biota bawah laut yang membuat takjub di kepulauan ini juga banyak sekali tempat-tempat indah untuk dikunjungi. Saya aja belum puas mengunjunginya dan suatu hari nanti saya akan kembali lagi di kepulauan ini. Kepulauan ini sangat rekomended untuk para traveller yang belum puas menemukan surga-surga di dunia dan tentunya mungkin sebagian orang akan menemukan kotak bahagianya jika mengunjungi tempat ini. saya bagi sedikit info tentang ketakjuban saya dengan sajian keindahan kepulauan ini yang tak salah juga di jadikan destinasi wisata yang wajib di kunjungi. 
Let’s gooooooooo kita cerita...
  
Perjalanan menggunakan Speed dari Dermaga Tj. Batu ke Derawan
Sewaktu berkunjung ke Derawan kami memulai start di Balikpapan, nah via Balikpapan saya bersama sohib “menggila” bareng kalo travelling bernama Albert. Kami berdua terbang dengan pesawat Sriwijaya dari Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman yang dulu kita kenal dengan Bandara Sepinggan ke Bandara Kalimarau di Tanjung Rejeb Kabupaten Berau, dengan harga tiket pesawat  kala itu seharga Rp 448.000,- (gak nyampe 500 ribu, hehehe). Dari bandara Kalimarau jika memungkinkan untuk terus lanjut ke dermaga penyeberangan pulau Derawan di daerah Tanjung Batu, dengan perjalanan travel yang memang banyak tersedia dan bersedia mengantar ke dermaga (dengan catatan kita harus booking dulu untuk penjemputan di bandara agar lebih memudahkan) kebetulan saya mempunyai rekan E. Perwose yang sudah pernah Backpackeran ke sana jadi saya di kasi no telpon supir travel dan saya booking travel ke beliau saja dengan merogoh kocek Rp 100.000,-. Bisa lebih murah lagi harganya tergantung nego dan kebetulan kami berangkat pada saat liburan Idul Fitri 1437 H ditambah libur panjang anak sekolah jadi termasuk High session, jika bukan hari libur biayanya sekitar Rp 75.000,- (ini no nya bisa dihubungi, silahkan saja 0821588662886/lupa namanya). Setelah menempuh perjalanan normal 2,5 jam sampailah ke Dermaga Tanjung Batu, sesampainya disana saya bernegosiasi dengan para speeders  yang memang berlabuh disana untuk menyeberang ke pulau Derawan, hasil negosiasi saya jadilah satu orang Rp 75.000,- (mendapat informasi dari driver bahwa harga normal emang segitu jadi coba nego jika mereka tawarkan harga lebih), dengan lama diatas speed  ± 25 menitan (pas nya lupa cz keasikan takjub dengan indahnya laut biru jadi gak sempet lirik jam tangan, hehehhee). Setelah disuguhi oleh pemandangan air aut yang membiru sampailah kita di dermaga tujuan kita yaitu dermaga Pulau DERAWAN. 
  
Di dermaga pulau Derawan
Baru saja turun dari Speed boat kita udah disuguhi pemandangan karang yang ada disekitar bawah dermaga, berhubung arus bawah laut gak terlalu kuat jadi ikan-ikan kecil berenang diseputaran karang nampak jelas (Gak sabaran mau snorkling rasanya). Setibanya disana kami beraksi mencari informasi untuk penginapan, semua penginapan atau resort pantai laut sudah penuh, jadilah kami membidik Homestay rumah warga (sebenarnya emang tujuan utamanya mau nginap di Homestay cz liburan ala backpacker, wkwkwkwkwk). Dapatlah Homestay dirumah warga dengan harga Rp. 200.000,- tapi karena insting liburan “ngegembel” berkat jago negosiasi jadilah Rp. 150.000,- tarifnya semalam (bukan jago nego tapi efek liburan murah ala Backpacker, hehehehe).  Selama dua hari dua malam di Derawan, setengah hari pertama kami berpuas ria mengelilingi pulau derawan yang penduduknya ramah-ramah. Tentunya untuk lebih menambah nuansa liburan pantai berkeliling pulau kita bisa sewa sepeda,  jam dihargai Rp. 20.000,- (mirip-mirip di bali atau lombok, hehehehe). Berhubung bermodal sok akrab, pemilik penyewaan kami lobi jadi sekali sewa cuma bayar tarif reguler tapi kami pakai seharian sepedanya untuk akses keliling (modalnya sok akrab aja itu tips nya). Ouh ya, ada cerita kami dimalam pertama di pulau, karena kami backpackeran tidak ikut travel agen maka kami harus mencari speed sendiri untuk mengelilingi gugusan pulau lain esok harinya yang juga andalan yaitu Pulau Maratua, Kakaban, dan Sangalaki (karena berdua kami sedikit keberatan untuk sewa speed boat yang kami anggap mahal dikantong, Rp 1.500.000,- speed boat kecil dengan muatan 4-5 org dan Rp 3.000.000,- speed boat muatan 10-11 orang. Mahal kan jika untuk berdua saja? Harap dimaklumi traveler murah, wkwkwkwkwkwk). Nah, itulah masalahnya kebingungan mau keliling ke 3 pulau itu tapi si sok akrab berdua ini gak habis akal, kami berdua bertanya dengan pelancong lain yang berdasarkan insting kami mereka juga sama seperti kami alias backpackeran. Bermodal pasang muka tanpa malu jadilah saya dan si botak albert bergerilya mata untuk mendeteksi para backpacker. Ditanya dan mengobrol sebentar (tentunya meminta no HP untuk mudah dihubungi), ada 3 kelompok yang kami temui tetapi hanya satu yang bersedia kami ajak ngobrol nyambung (mungkin karena seusia gitu kali yah, heheehe) dan sepertinya mereka juga bersedia mengajak gabung namun belum ada kata deal. Kebetulan bertemu dengan kelompok yang satu ini di kedai makan nuansa lesehan sama-sama hendak isi perut, ouh ya saran saya agak mahal jika makanan dengan nuansa kedai/cafe seperti ini. Kami berdua pesan cah kangkung dan cumi goreng tepung, nasi 2 porsi plus teh tawar seharga Rp 85.000,- kalo makan nasi goreng yang ada dilapak-lapak warga yah sekitar Rp 25.000,-/porsi (silahkan bandingkan). Kita lanjut setelah habis makan kita bersepeda lagi menuju homestay, sesampai di homestay kami mandi dan beristirahat. Setelah bersih semua kami bercengkerama dan berkelakar tentunya masih kebingungan untuk keliling gugusan pulaunya, tidak berapa lama telpon si Albert berbunyi ternyata dari teman baru kenal yang janjian mau sewa speed boat. Ba bi bu si Albert sama teman baru itu telponan untuk kepastian berangkat besok dan deal kita jadi berangkat. Janjian setelah sholat ied Idul Fitri sekitaran pukul 09.00 wita. Dengan tertawa bahagia kami berdua backpacker “gembel” ini karena tujuannya sudah pasti, hahahhahahhaa. Ouh ya share biaya kami jadinya untuk sewa speed boat Rp 3.000.000,- dibagi 7 orang sekitaran Rp 430.000,-/orangnya. Setelah mendapat kepastian kami lanjut tidur tapi saya minta tidur duluan, jika Albert duluan alamat gak bakalan bisa tidur, ngoroknya itu lho sekuat halilintar (sering terjadi jika ngecamp di alam terbuka, wkwkwkwk. Saya gak bisa tidur gara-gara halilintar Albert keluar).
   Esok harinya, diiringi nuansa lebaran ala-ala pulau Derawan kami semangat unuk petualangan yang sudah ditunggu-tunggu. Persiapan sudah semua di tas, bergegaslah kami menghubungi rekan baru kenal kebetulan namanya si Tommy. Bertemu dengan rombongan mereka yang berjumlah 5 orang, dengan sapaan anak muda tos-tosan terlebih dahulu. Tak lupa kami mencari peralatan snorkling dan si Tommy memberitahukan bahwa ada tempat penyewaan alat snorkling termurah yaitu Rp 25.000,-/Hari, tetunya tidak melewatkan kesempatan donk,hehehehehe (rata-rata ditempat lain penyewaan alat snorkling Rp 50.000,-/hari). Tak berapa lama kami bercengkerama maka bergegaslah kami menuju dermaga tempat si pemilik Speed boat singgah, sekitar 5 menitan kami menunggu datanglah sebuah speed boat putih dengan dobel mesin. Tak menyia-nyiakan waktu kami semua naik ke Speed boat tersebut dengan muka yang sumringah semuanya.
  
Perjalanan menuju Pulau Maratua, Kakabn dan Sangalaki
Tujuan pertama kami yang diarahkan oleh pengendara speed boat adalah pulau Maratua, dipacunya pesawat air yang kami naiki ini. jeprat jepret oleh kami semua entah apa yang kami jeprat jepreti. Sekitar 1 jam perjalanan dari pulau Derawan ke pulau Maratua tibalah kita di dermaga Villa Water Resort Maratua. Mulailah kami bergerilya mencari spot-spot yang tersedia di Maratua ini, dan kami menghampiri pantai pasir Putih yang hamparanya sangat mengajak kita untuk mendekatinya. Tak mau lewatkan momen, kami semua mengeluarkan alat potret masing-masing. Jeprat jepret pun kembali beraksi tanpa terkecuali dari kami semua. Ada beberapa yang nyemplung dilaut tepian pantainya sambil mencari angle foto yang diinginkan tak ketinggalan saya yang memang “gila” mengabadikan momen. Sebenarnya Maratua menyediakan tempat snorkling dan Diving tapi tidak kami coba karena cukup berfoto ria saja, ada beberapa dari pengunjung grup lain yang snorkling. Setelah puas menikmati jeprat-jepret kami sepakat melanjutkan ke pulau sebelahnya yaitu Pulau Kakaban.
Pantai Maratua
   Perjalanan dari Pulau Maratua ke Pulau Kakaban ditempuh sekitar 15 menit saja, dengan masih semangat 45 kami semua bercanda ria dalam Speed boat yang mengantar kami. Tak lama si pengendara pesawat air ini menurunkan kecepatan laju boat yang kami naiki, ternyata kami sudah mendekati karang tempat berlabuhnya boat para pelancong, penuh hati-hati dan perlahan beliau mendekati bebatuan karang datar yang keras untuk menambatkan boatnya dengan memberi kami instruksi untuk turun. Saya bertanya ada apa disini karena sepengelihatan saya pengunjungnya gak terlalu rame. Dijawab oleh pengemudi boat didalam sana ada danau yang bisa kita lewati dengan 2 jalur, jalur pake bantuan anak tangga kayu menaiki tebing dan satunya lagi melewati goa yang menjadi penghubung mengalirnya air laut ke Danau ataupun sebaliknya. Sesampainya di lokasi danau tak mau berlama-lama lagi kami langsung nyemplung ke Danau yang berwarna biru, sangat sayang dibiarkan begitu saja. Dengan peralatan snorkling kami mulai berburu untuk melihat ikan-ikan kecil yang seolah mengajak kami bermain, berenang kesana kemari mengikuti ikan-ikan itu. Dan Saya termasuk pengunjung paling beruntung karena saya menemukan tumpukan karang kecil tempatnya Ikan Anemon hitam putih. Pokoe sueruuuuuuu bermain di danau ini kita bisa mengapung dan airnya yang tenang. 
Danau ikan di pulau Kakaban

Setelah puas berenang di danau ini kami bergegas ke boat untuk ke destinasi berikutnya yaitu Danau Ubur-ubur masih di Pulau Kakaban. Sang pengemudi boat memberi instruksi untuk segera bergegas naik ke boat untuk lanjutkan petualangan berikutnya. Tak lama sekitar 3 menitan boat di pacu sampailah kami di dermaga yang sudah banyak bertambat boat-boat pengunjung lain. Sebelum naik dermaga kamipun sesempatnya berenang dulu di laut yang sangat jernih dan tentunya ikan-ikan kecil diseputar karang yang sangat menggoda mata. Tak beberapa lama teman-teman mengajak untuk segera masuk naik ke dermaga, di ujung dermaga terlihat sebuah gerbang Selamat Datang Di Pulau Kakaban. Tak sah untuk tidak mengabadikan momen di gerbang ini sebagai tanda sudah pernah berkunjung ke Pulau ini. Masih semangat untuk melanjutkan petualangan ini, kamipun melanjutkan perjalanan menuju danau Ubur-ubur Kakaban, jalur perjalanannya makin membuat semangat (apa cobaaaa?) taraaaaaaa hutan basah yang pohonnya masih guede-guede yang bikin tenang jiwa rasanya ditambah lagi batu karang kering didalam hutan menambah eksotisnya perjalanan ini, bukan itu saja trayek yang safety dan nyaman membuat perjalanan ini super, hehehehehe. Sekitar 5 menit perjalanan tibalah di Danau yang sudah dipenuhi ratusan orang nyemplung mengapung dengan peralatan snorkling yang sudah terpasang semua. Sedikit ku percepat perjalanaku diantara teman-teman. Kembali kami disuguhi oleh hamparan air berwarna biru kehijauan dengan dikelilingi pohon-pohon menghijau. Danau yang sangat luas, POKOKNYAAAAAA INDAH BANGET DAHHHHHHHH... Diantara rombongan kami itu sayalah yang paling tak sabar untuk nyemplung, paling pertama mendekati dermaga kecil untuk melihat posisi yang tepat untuk terjun (peralatan snorkling sudah stand by begitu juga jaket pelampung/life jacket sudah ready)... Byurrrrrrrr dengan jipratan air Danau naik keatas karena ketimpa badanku yang sedikit berlemak dengan perut buncitku juga,wkwkwkwkwkwkwk. Penyesuaian sebentar dengan suasana Danau Air asin ini, tak berapa lama dengan kacamata snorkling dan selang pernapasan yang terpasang saya pun mulai bergerilya mencari sang Jelly Fish alias Ubur-ubur yang tak berbahaya, satu persatu saya temui selah-olah mereka mengajak berkenalan dan mendekati. Tak begitu lama saya menyelam ala-ala bebek (tau kan maksudnya renang ini ? ya, badan masih mengapung tapi kepala yang nyemplung ke air), saya sangat takjub dikerumuni ratusan Saudara baru berbadan kenyal-kenyal penghuni Danau air asin ini. Tak lama teman-teman saya panggil untuk segera nyemplung, satu persatu pun nyemplung, ketika semuanya sudah pada nyemplung (tentunya siap berburu menikmati indahnya pesona Danau Ubur-ubur ini), beragam aksi dan reaksi dari kami semua  menikmati ketakjuban ini yang mungkin jarang kita temui ditempat lain. Selfie, selfie, selfie dan selfie pun tak terelakkan, mulai dari jeprat-jepret sampai merekam saat berenangpun tak terelakkan. Hal yang paling membuat senang yaitu ubur-ubur ini sepertinya senang menyambut kerumunan orang-orang, sampai-sampai saya nemukan satu ubur-ubur yang tentakelnya terpotong tapi masih bisa bebas berenang dengan lincahnya, saya juluki Paijo, hehehehehe. Sahabat berenang saya di Danau Kakaban ini. Dari bercanda, tertawa, beragam aksi renang, foto bareng, rekam video dan tak ketinggalan selfie dari foto suasana danau sampai jeprat-jepret bareng Ubur-ubur. Pokonya satu kata : SERRRRRRRRRRRUUUUUUUUUUUUU. Kira-kira satu setengah jam kami menikmati suasana di Danau itu. Puas sepuas puasnya barulah kami mulai merapat ke dermaga, lumayan menguras tenaga juga lama-lama berendam tapi tak terasa saat berada di Danaunya. Setelah sepakat meninggalkan Danau Ubur-Ubur Kakaban kamipun bersiap-siap melanjutkan destinasti berikutnya yaitu Pulau Sangalaki.
Berenang bersama Ubur-ubur di P. Kakaban
   Perjalanan dari Pulau Kakaban ke Pulau Sangalaki tak memakan waktu lama, yah sekitar 10 menitan di perahu laju itu. Sampailah kita di pulau Sangalaki yang terkenal dengan Spot Snorkling dan Divingnya yang kueren banget dan disana juga ditemui penangkaran Penyu Hijau. Selain menyelam jadi kita bisa berselfie dengan Tukik-tukik yang lucu hasil penetasan oleh petugas yang disimpan dalam kolam yang disemen khusus untuk Tukik-tukik tersebut. Tapi ada yang menarik ketika mau merapat ke pantai pasirnya, sekitar 500 m speed boat harus berhati-hati karena sepanjang itu kita sudah memasuki area pasir datar berkarang disitu speed boat harus matikan mesin karena jika mesin tetap hidup maka mesin dapat merusak karang-karang itu tempat ikan-ikan kecil bermain. Setelah puas melihat-lihat dan bermain dengan Tukik-tukik kecil di penangkaran saya dan rombongan jeprat-jepret dipantainya yang emang keren banget, hamparan pasir putih yang disebelahnya terlihat pulau Kakaban dan air lautnya sebening embun jika jauh terlihat membiru samudera. 
Snorkling di P. Sangalaki

Tapi masih belum lengkap donk jika hanya seputaran itu saja, pulau sangalaki ada menyimpan satu keindahannya yaitu spot Diving dan snorklingnya yang keren banget. Selain itu jika beruntung kita akan ketemu sama Pari Manta dan penyu hijau disana bahkan kita juga dapat temukan kelompok lumba-lumba yang berenang diantara gugusan pulau Maratua, Kakaban dan Sangalaki. Tapi sayang saat kami berkunjung tidak bertemu dengan Pari Manta, Penyu, dan Lumba-lumba karena menurut bapak yang jadi guide sekaligus driver boatnya bilang bulan-bulan juni sd agustus gelombang dan arus tergolong kuat dan tinggi. Biasanya bulan September sd Oktober atau Maret sd Mei arus bawah laut dan gelombang tidak terlalu kuat atau tidak tinggi. Meski demikian kami tetap takjub ketika snorkling, ikan-ikan kecil dan terumbu karangnya wuiiiiiiiihhhhhhhh kerennnnnnnnnnnn. Snorkling aja keren apalagi Diving kataku pada teman-teman. Kembali lagi saya yang beruntung ada lihat anak pari kecil Kira-kira berdiameter 20 cm di dasar pasir. Gak tahu jenis anak ikan pari apa dan sayangnya saya gak sempat abadiin tuh keberuntungan hehehe, saya katakan beruntung karena hanya saya yang dapat melihatnya dan yang lain kehilangan momen itu, anak Parinya mungkin udah kabur atau nyelinap di bawah karang dasar untuk melindungi diri. Sayang sekali kami hanya membawa alat snorkling saja beda halnya dengan Diving, bisa lebih dekat dengan Ikan-ikan maupun hewan dasar laut sangalaki. Setelah puas menikmati alam laut sangalaki kamipun bergegas ke speed boat yang sedari tadi setia menunggu, ayo kita pulang kata seorang teman (Tommy) dan semuanya naik diatas Boatnya. Maka kembalilah kita semua dengan perasaan yang sagat puas mengunjungi gugusan kepulauan Derawan (tak salah jika dijadikan tujuan destinasti wisata yang wajib dikunjungi). Sekembali ke homestay kami membersihkan diri masing-masing dan masih bisa menikmati sunset di Pulau Derawan yang sangat sayang untuk dilewatkan dan yan membuat kangen ingin kembali.
   Malampun tiba, kamipun tak lupa berburu oleh-oleh khas dari pulau (apa itu?) hehehehe, kerang yang dijual oleh warga Pulau derawan. Dan malam terakhir ini pun kami manfaatkan sepuasnya untuk mengenal lebih dekat dengan pulau derawan, kami berbincang dengan bapak Firdaus si penjual kerang-kerangan sampai tengah malam pukul 00.23 Wita dari pukul 20.00 Wita. Banyak informasi yang kami peroleh dari beliau ini, dari asal penduduk Pulau Derawan ini sampai pada makam misterius yang ada di Pulau ini, disebut Makam misterius oleh warga setempat karena tidak ada informasi mengenai siapa yang dimakamkan dan dari mana asal orang dimakam itu karena tidak ada menunjukkan informasi pada nisan ataupun sekitar makam uniknya salah satu makam di beri Nisan dua buah pahatan batu menyerupai bentuk 2 kepala kuda (arah bagian kepala besar dan bagian kakinya kecil) yang berukiran motif kasar khas sedangkan makam-makam lainnya hanyalah kayu balok berukir motif khas yang sama. 
makam tua di pulau Derawan

Banyak info yang kami dapat dari Bapak Firdaus tentang derawan dan sekitanya, waktupun makin larut kami bergegas pamit untuk istirahat di Homestay.  Sesampainya di Homestay saya packing beberapa pakaian yang ada dan bawaan lainnya (peralatan kamera dll), barulah beristirahat. Keesokan harinya pagi-pagi saya dan albert mengunjungi makam-makam yang diceritakan oleh pak Firdaus malam sebelumnya. Setelah puas melihat-lihat dan mengabadikan momen barulah kami siap-siap untuk pulang. Tak lupa Pamitan dengan pemilik Homestay, kamipun menunggu Speed boat yang akan menyeberang ke Dermaga Tanjung Batu. Sekitar kurang lebih setengah jam kami menunggu datanglah sebuah speed boat yang akan menyeberang, tentunya untuk terakhir kali kami berada di Pulau Derawan jeprat-jepret pun tak ketinggaan di Dermaga sebagai ucapan perpisahan.
   Inilah perjalanan saya dan sohib Albert, selain suka duka pun tak mau pergi menghiasi perjalanan Backapckeran pertama kali ini. pengalaman inilah yang membuatku bagaimana menemukan kotak kebahagiaan dari seorang Backpacker. Menikmati dengan cara kita sendiri dan menikmatinya tak perduli mewah atau pun tidak. Terkesan berbeda dari yang lain yang itu adalah cara menikmati Liburan Ala Backpacker, oh ya satu lagi tips dari saya yaitu memperkecil kemaluan alias memotong urat malu atau jangan malu-malu atau gengsi (tapi bukan malu-maluin. Heehheeeee). Kiranya inilah pengalaman saya selama berada di kepulauan Derawan, semoga tulisan saya ini bisa menjadi perbandingan untuk liburan sehemat mungkin di Derawan. Liburan murah itu tidak selamanya ngegembel, jangan takut untuk Backpackeran. itu pengalaman yang saya dapat dari perjalanan ini tentunya harus diperhitungkan matang dulu jangan nantinya menyulitkan kita dalam perjalanan. Okelah, sob tulisan ini masih banyak kekurangan dalam penyampaiannya mohon kasi masukan ya kiranya masukan dan saran sohib-sohib  sangat dibutuhkan. Selamat merencanakan Liburan ala sohib-sohib sendiri.
Pemandangan Laut di P. Maratua



Dermaga Maratua Dive Resort, P. Maratua
 
Pantai Pulau Sangalaki



Pulau Sangalaki, penangkaran Penyu Hijau


Snorkling di Danau Ikan di P. Kakaban
Berenang di Danau Ubur-ubur Pulau Kakaban
 
Snorkling Area di Pulau Derawan
P. Derawan dan resort diatas laut, menjelang sore





Salam Hangat dari saya “Jejak Setapak”
Ketika Backpackeran bersama Albert Venansius Si Botak dari Ambawang.

" JANGAN DIRUMAH TERUS, ALAM INDONESIA ITU INDAH "
" PANIK MARI PIKNIK "



#medio, 06-July-2016#