 |
| Jejak juga disini, Bersama Tim Jejak Budaya Kaltim |
Jangan Hilang (Tradisi Hebatmu), Kampung Muluy
 |
| Foto Bersama Jejak Budaya Kaltim & Penduduk Kampung Muluy |
Kampung
Muluy dimana itu? Pastinya sebuah pertanyaan yang akan terlontar jika mendengar
nama itu. Kampung Muluy adalah sebuah kampung yang lumayan jauh dari
keramaian, suasananya masih sangat erat dan mengandalkan alam sekitar. Lokasi
kampung yang berada di lembah perbukitan dimana salah satunya adalah Gunung Lumut
(sebuah wilayah yang memegang peran penting dalam kearifan Kampung Muluy). Kampung ini berada di wilayah Desa Suan Slotung, Kecamatan
Muara Komam, Kabupaten Paser, Provinsi Kalimanan Timur. Jarak dari ibukota
kabupaten Paser yaitu Tanah Grogot diperkirakan ± 120 Km, adapun jarak
terdekat Kampung Muluy dengan desa induk (Suan Slotung) sekitar ± 18 Km (dengan jalan yang rusak parah ditambah jembatan penghubung yang roboh), sedangkan jarak dari Kampung Muluy dengan jalan raya beraspal sekitar ± 60 Km (ke arah simpang Lombok - simpang Pait sebagai Pusat perbelanjaan, wilayah Kec. Longikis) Hal ini memaksa penduduk
kampung Muluy lebih memilih melakukan aktivitas perekonomian di daerah simpang
pait Kecamatan Longikis.
 |
| Aliran Sungai Muluy |
Nama kampung
Muluy diambil dari sebuah nama aliran sungai, yaitu Sungai Muluy yang terdapat
di wilayah kampung itu, dimana sungai
ini berperanan penting dalam kehidupan mereka. Hal ini terlihat dari beberapa
aktivitas pokok penduduknya dalam hal sumber air bersih ataupun keperluan
mandi, namun peran yang lebih menonjol dari sungai tersebut adalah sebagai mata
pencaharian sebagian penduduk karena terdapat sumber daya alam, kandungan
mineral emas. Dengan adanya potensi ini penduduk setempat tak mau
menyia-nyiakan kesempatan yang ada, mereka melakukan penambangan secara tradisional
untuk mata pencaharaian mereka selain karet. Proses penambangan disebut mendulang, adapun
proses penambangan tradisional ini, warga
menggunakan sebuah alat berupa atau mirip wajan yang berdiameter kira-kira 60
cm yang biasa terbuat dari kayu atau dari pipa besar yang dibentuk sedemikian
rupa menyerupai bentuk wajan.
 |
| Warga yang mencari emas dengan alat sederhana bernama Dulang |
Alat ini bernama dulang yang mana alat ini berfungsi untuk mengayak emas atau memisahkan emas dari pasir/tanah sebelum diberi air
raksa (yg berfungsi untuk menyatukan bijih-bijih emas menjadi lempengan emas). Kegiatan
ini dilakukan dengan cara mengambil pasir yang diperkirakan terdapat kandungan
bijih emasnya dengan melihat tanda tertentu dari pasir atau tanah tersebut,
kemudian pasir dimasukan kedalam dulang dan diayak diatas air (sungai
muluy). Tentunya kegiatan menambang secara tradisional (mendulang) ini hanya boleh dilakukan oleh penduduk
setempat sedangkan orang luar daerah dilarang secara adat untuk
melakukan penambangan disekitar kampung. Hal ini dimaksudkan agar yang
memanfaatkan potensi alam disekitar wilayah kampung hanyalah penduduk asli, ini juga
dimaksudkan agar tidak terjadi kerusakan
alam dalam skala besar jika ada
penambang dari luar yang notabene hanya menginginkan hasil saja tetapi tidak
bertanggung jawab atas kerusakan parah yang ditimbulkan.
Ketika
berkunjung disana saya bersama-sama tim Jejak Budaya kalimantan Timur yang
digawangi Bang Cikal dkk, saya tergabung dalam kumpulan Jejak Budaya sebagai partisipan saja pada kegiatan itu, selama 2 hari 2 malam kami berada di sana. Langsung saja kita cerita, ya? hehehe...ya, Tepatnya pada
tanggal 16 september 2016 sekitar pukul 14.00 wita seperti tanggal yang disepakati bersama untuk keberangkatan, semua rombongan berkumpul di simpang lombok desa simpang pait sebagai tempat starting point.
Satu persatu pun merapat di tempat yang sudah ditentukan tersebut, setelah berkumpul dan perkenalan satu sama lain terjadi secara spontan antar peserta. Dari yang belum saling mengenal menjadi satu kesatuan, kita
membaur dan mulai timbul keakraban diantara para peserta yang sama-sama akan berkunjung kesana. Pemuda dan pemudi dari berbagai daerah yang ada di
kaltim pun ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut, ada dari rombongan
Tenggarong, Samarinda, Balikpapan, Tana Grogot, Batu Kajang, Bontang dan saya
bersama Albert Venansius mewakili sahabat-sahabat Kalbar (hehehehehe padahal
saya stay di Samuntai sebuah desa wilayah Kab. Paser sedangkan Albert stay di
Balikpapan tapi memang kami dari kalbar yang ketemu di perantauan Kaltim ini).
Dari bebagai asal para pemuda yang ambil
bagian dalam kegiatan tersebut membaur menjadi satu kesatuan Jejak Budaya
Kaltim. Namun pada hari keberangkatan tersebut Tim utama Jejak Budaya (bang Cikal
dkk) berangkat belakangan dikarenakan mempersiapkan beberapa peralatan yang
masih belum rampung. Ouh ya, kegiatan ini sudah tercatat sebagai agenda wisata
budaya karena hal ini melibatkan beberapa orang yang memang mempunyai akses
untuk memperkenalkan pariwisata maupun budaya yang ada di Kaltim seperti melibatkan Duta Pariwisata Kaltim tahun 2016
dan Mister Indonesia Kaltim 2016 (Maaf
kalo salah Tahunnya, heee). Dimulai dari tempat starting point kami
memulai perjalanan, tak terasa letih atau putus asa selama 3 jam perjalanan.
Hal ini dikarenakan sepanjang perjalanan kami disajikan pemandangan alam yang
jarang kami temui, kesemuanya menyegarkan
mata. Dalam perjalanan ini kami mengikuti jalan tanah yang sedikit
berbatu dengan jalan berkelok dan terkadang kami berjalan diatas bukit yang
tinggi dimana sisi kanan adalah jurang yang sangat curam. Sesekali kami temui
burung Enggang bertenger atau terbang di antara pepohonan yang tinggi
menjulang. Ouh ya ada pula suatu pemandangan yang menyedot perhatian kami
ketika melintasi sebuah bukit diseberang jalan, ya sebuah pohon yang berbeda
diantara pohon lainnya.
 |
| Warna daun yang langka, merah menyala |
Sebuah pohon yang mempunyai daun berwarna merah menyala
mencolok diantara warna daun yang lainnya. Daun berwana merah menyala notabene
kontras dengan warna daun kebanyakan yang kita tahu berwarna hijau tua atau
hijau muda. Lengkap memang perjalanan menuju ke kampung ini selain jalanan yang
menantang, jalanan berlumpur, turun naik bukit, pemandangan alam liar yang
mempesona dan keunikannya, serta (tentunya) aura kesegaran karena udara yang
belum terkontaminasi. Tak terasa perjalanan yang kami tempuh, lelahpun terbayarkan bahkan masih menyisakan semangat membuncah untuk segera menyelesaikan perjalanan sampai pada tujuan kami yaitu Kampung
Muluy.
Keseruan
itu terbayar ketika tepat pukul 18.13 Wita, kami sudah menuntaskan perjalanan
dan sampai di tempat tujuan dengan selamat. Sesampainya disana kami langsung
diarahkan untuk menemui bapak Jidan di kediamannya, yah sekali lagi kami
tercengang karena lokasi rumah bapak ketua adatnya tepat berada di atas
perkampungan atau dataran lebih tinggi yang mana tepat di halaman rumah beliau
kami sudah bisa melihat setengah dari kampung Muluy.
 |
| Lokasi Halaman Rumah Ketua Adat (Bapak Jidan) |
Setelah menemui bapak Jidan, beberapa
teman sebagai perwakilan melakukan pertemuan singkat dengan beliau untuk
mendengarkan hal-hal yang diperbolehkan atau pantangan di kampung Muluy.
Negosiasi pun berlanjut sekitar 15 menit lamanya, dengan keputusan bahwa kami
hanya dipersilahkan untuk memasang dome atau tenda disekitar halaman rumah atau
lokasi kosong disekitar lingkungan perumahan warga, diluar dari itu kami tidak
diperbolehkan karena jika terjadi hal yang tak diinginkan mereka tidak
bertanggung jawab (karena ada pantangan adat dari adat kampung pada saat itu).
Berdasarkan kesepakatan, kami semua sepakat untuk memasang dome hanya
diseputaran lingkungan rumah ketua adat (Bapak Jidan). Satu persatu dome kami
pasang dan beberapa perempuan dengan naluri kewanitaanya memasak untuk keperluan
isi perut, setelah kesemua dome terpasang, barulah dimulai dengan acara bebas
pada malam pertama kedatangan dikampung ini. Ada yang bermain gitar lele nya si Albert, ada pula yang bercengkerama satu sama lain sembari mengenal diantara
anggota lebih dalam.
 |
| M. Nafis (Aman Paser), V. Albert, Saya, S. Amin (Aman Paser), Freddy (BA dan Blogger) |
Saya juga tak mau ketinggalan
untuk mengenal anggota lainnya, mulai dari berkenalan dengan teman-teman
pejuang masyarakat Adat Paser (AMAN Paser) yaitu Muhammad Nafis dan Syukran
Amin yang keduanya merupakan saudara yang sangat akrab dan kompak. Salut
untuk kedua sahabat baru saya ini, berjuang untuk memperjuangkan hak-hak
masyarakat Adatnya. Selain kedua sahabat baru ini saya juga berkenalan dengan saudari Emy Erfansyah salah satu
aktivis peduli budaya dan kesenian Paser, semangat dari ibu muda ini juga
memotivasi saya untuk semakin antusias dalam kegiatan ini. selain teman-teman
dari Paser ada juga teman-teman dari JB (Jejak Budaya kaltim) kang Juned, Upik, doni (sesama milanisti juga ternyata, hehehe) dan wulan dari Tukang jalan
tapi kere, Arya dan Dony Lung rekan-rekan dari My Trip My Adventure (MTMA) Balikpapan dan Samarinda,
serta Mapala Paser yang kesemuanya
sangat asik dan welcome. Malam semakin larut dengan cuaca khas perkampungan
lembah perbukitan yang dingin, satu persatu dari kami mulai memasuki dome atau
tenda. Begitu juga saya dan Albert yang tendanya dipinjamkan kepada teman-teman perempuan yang tidak
membawa tenda sehingga kami tidur beralaskan hamparan karpet bersama lelaki-lelaki tangguh lainnya (hehehehe tidur beratap langit). Dengan tidak mau
ketinggalan saya memasang sleeping bag dan kupluk untuk menyiasati cuaca dingin
dikampung Muluy. Suasana semakin senyap seiring larutnya malam ditambah
keheningan yang mengiringi malam pertama kami di kampung ini, dan malam pun
berganti disambut fajar.
 |
| Pose di waktu matahari mengintip tepat di atas G. Lumut |
Fajar
yang mulai merekah, langit yang juga terlihat mulai mengintipkan sinar
mentari, seperti sebuah harapan yang timbul. Kombinasi langit dan sinar mentari
menciptakan keindahan langit pagi,
beberapa dari teman-teman ada yang menjalankan sholat subuh, suasana
yang tadinya lengang mulai terlihat ada pergerakan aktivitas. Sesaat suasana
ini menjadi sedikit ramai dan saya pun terbangun dengan menyisakan kemalasan
bangun tidur, sebagian dari para ladies ada yang sudah memulai memasak air
panas untuk menyeduh minuman sachet yang dibawa masing-masing. Saya tidak mau
melewatkan momen ini, dengan menghampiri tas/karier, saya buka saku depan tempat dimana menyimpan perbekalan, kemudian
saya ambil beberapa minuman sachet tersebut dan minta bantuan untuk diseduhkan
(qiqiqiqi asik serasa ada asisten pribadi). Pagi dan segelas kopi sachet turut
menghangatkan suasana kebersamaan kami di kampung Muluy ini. Entah terkena
sindrom selfie atau sayang melewatkan keindahan pagi dengan kombinasi sinar
mentari yang merekah (memerah lembut khas langit pagi) kami berpose
ria dalam keadaan belum mandi (tapi tetap ganteng dan cantik-cantik,
hehehehe). Tak berapa lama rombongan
bang Cikal dkk sebagai anggota utama Jejak Budaya Kaltim dan diikuti
teman-teman jalan-jalan Paser dibelakangnya pun tiba. Semakin rame dan memecahkan
kegaduhan pagi yang terbiasa lengang. Sepi menjadi gaduh dengan bertambahnya
personil yang baru sampai ini, ada mimik kegembiraan satu sama lain dikarenakan
mereka yang punya gawean sudah hadir. Tak lama setelah kedatangan bang cikal
dkk Saya dan si albert serta beberapa teman lainnya bergegas untuk mandi dan (maaf)
buang hajat diseputaran aliran sungai Muluy, hal ini kami lakukan karena
ketersediaan WC umum yang hanya satu (antri yang lumayan lama sedangkan perut
sudah berontak mau dikosongkan, heeee). Ada hal menarik ketika saya membuang air, ya, lipatan samping antara kaki dan paha
sebelah kanan atas saya di hinggapi 3 ekor pacet (sejenis lintah kecil yg menghisap
darah). Dengan penuh kaget saya lepas satu persatu pacet yang menempel, ada
yang sudah membesar badannya karena mungkin telah lama menyedot darah.
Sebenarnya saya paling geli melihat pacet yang licin berlendir tapi berhubung
saya sendiri yang mengalaminya sehingga saya beranikan diri melepaskannya satu
persatu. Sontak beberapa teman ada yang terbahak mendengar kejadian ini dan
ternyata teman saya yang bernama Arya dari MTMA Balikpapan juga mengalami hal
yang sama tetapi pacetnya belum sampai menempel di kulit hanya disendalnya
saja. Setelah selesai dengan urusan pacet saya mandi dan bersih-bersih diri
begitu juga teman-teman lainnya (diselingi banyolan-banyolan konyol khas anak muda).
Sesudah mandi kami kembali ke tenda untuk mengganti baju, dan beberapa ladiesnya
sudah melakukan tugas mereka yaitu
memasak untuk makan sarapan plus makan siang (hehehehe, sarapan dan makan
siangnya dirapel). Rombongan memasak ini diketuai oleh mba Emy Efansyah dan
beberapa sahabat Mapala Paser lainnya sedangkan rombongan lainnya memasak sendiri-sendiri, tetapi ada sedikit trouble atau kendala
dalam memasak nasi dari teman-teman Paser yaitu beras yang dimasak volumenya kebanyakan sedangkan air untuk menanak
nasi itu lebih sedikit sehingga perbandingannya tidak sesuai antara air dan beras (hal ini karena belum terbiasanya mereka memasak dengan wadah penanak nasi menggunakan kayu bakar dan penanak nasi khas perkampungan). Naluri saya yang
juga hobby memasak tersentuh untuk membantu, dengan sedikit kesigapan saya ikut
membantu memasak nasi ini. saya pun melihat bahwa takaran beras didalam wadah
harus dikurangi sedangkan air untuk memasaknya harus ditambah dengan sedikit
menurunkan jarak antara api dan wadah memasak agar perapiannya sesuai untuk
panas api. Alhasil, nasi yang ditanak ini berhasil matang dengan baik dan
kendala pun bisa diatasi untuk pagi ini. saya senang melihat kekompakan dari
teman-teman baru ini, sementara kami membereskan penanakan nasi yang hampir
gagal, beberapa teman lainnya berinisiatif memasak sayur dan lauk yang ada
sehingga nasi siap disajikan begitu juga lauk pauk sudah siap.
 |
| Makan Bersama teman-teman Jalan-jalan Paser |
Ketika semuanya
sudah siap dan matang, nasi dan lauk pauk yang sudah siap disantap
diletakkan pada hamparan daun pisang yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Hal
yang paling seru pun terjadi dengan mengatur posisi duduk (jongkok) dilanjutkan
berdoa sesuai keyakinan masing-masing, santap makan rapelnya pun dimulai tanpa
ada yang merasa jijik atau malu ketika makan bersama khas anak alam yang
mengutamakan kebersamaan dan kekompakan (gak jelas entah sarapan atau makan
siang, wkwkwkwkwk).
Sinar mataharipun
mulai menyengat pertanda siang hadir, berhubung kegiatan akan dilaksanakan pada
sore hingga malam hari maka untuk siang ini diisi dengan acara bebas. Dengan
cuaca yang sedikit hot, masing-masing dari kami mengamankan diri mencari tempat
teduh, begitu juga saya yang berteduh dirumah kosong seputaran tenda. Makin
siang makin terasa matahari menyengat kuat dikulit, beberapa teman
bergelantungan memasang hammock yang
diikat kedua ujungnya pada pohon satu ke pohon lainya diseputaran tempat
ngecamp sedangkan sebagiannya lagi membaur dengan penduduk kampung Muluy. Tak
lama kemudian saya bersama rekan baru dari komunitas MTMA Balikpapan (Arya) beranjak
dari tempat berteduh dan hendak bergabung dengan beberapa teman yang sudah
lebih duluan membaur dengan penduduk. Setelah sampai pada sebuah warung disana
kami temui ada beberapa teman yang bercengkerama sembari menikmati jajanan yang
disediakan oleh warung tersebut.
 |
| Bercerita bersama Pak Jidan |
Disamping itu juga ada Bapak Jidan selaku
ketua adat setempat berbagi cerita tentang kearifan lokal kampung muluy. Beliau
mengisahkan tentang bagaimana warga kampung dan ketua adat tetap bertahan pada
sisa-sisa kearifan lokal yang masih tersisa. Ya dikatakan sisa-sisa kearifan lokal karena
hanya beberapa saja yang memang masih dipertahankan sedangkan yang lainnya ditelan
oleh perkembangan jaman dan masuknya agama baru. Ada kesedihan di raut wajah
pak Jidan yang menceritakan hal itu, bagaimana tidak tradisi turun temurun yang
merupakan warisan leluhur menjadi hilang dan tidak ada penerus untuk
melanjutkan. Tersisa hanya instrumen-instrumen/peraga, atribut ataupun cerita
saja mengenai tradisi yang sudah beralih itu. Tradisi tersebut hilang karena pengaruh
budaya Agama yang sedikit bertentangan dengan tata cara mereka ketika masih
mempertahankan tradisi tua itu atau sudah tidak sesuai jamannya lagi. Tradisi dalam hal ini adalah hal-hal yang
berbau dengan Kepercayaan Animisme dan Dinamisme, untuk Animisme sudah hilang
dan tak membekas sama sekali namun berbeda halnya dengan kepercayaan Dinamisme disana masih ada yang dipertahankan. Kepercayaan Dinamisme
ini tampak jelas dari cara mereka mempertahankan Hutan Adat Gunung Lumut yang
dipercaya mereka adalah ibu bagi masyarakat muluy. Saya tidak tahu persis
mengapa Gunung lumut dianggap sebagai ibu bagi mereka namun berdasarkan
pemaparan pak Jidan bahwa Gunung Lumut disakralkan demikian karena gunung
tersebut memegang peranan penting dalam kehidupan mereka, kenapa begitu sakral? Hal
ini dikarenakan mereka memperoleh berbagai sumber alam dari hutan Adat
tersebut. Selain analogi pertama analogi lainnya adalah para leluhur mereka
membuat Paradigma tentang Gunung lumut sebagai ibu bagi mereka karena
seorang ibu akan menjaga anak-anak mereka (penduduk Kampung Muluy) dan begitu
juga sebaliknya anak-anak (Penduduk Kampung Muluy) tidak mungkin untuk
menyakiti ibunya sendiri. Saya sempat tergugah dengan dua Analogi hebat dari
kampung ini, mengapa demikian? Karena menurut saya analogi kedua yang sangat
menyentuh dan jadi pembelajaran untuk kita. Analogi kedua ini erat hubungannya
dengan Simbiosis Mutualisme (Hubungan saling menguntungkan) yang mana Gunung
Lumut menyediakan beberpa kebutuhan hidup penduduk dan penduduk tetap
mempertahankan kaeasrian atau alaminya Gunung Lumut itu sendiri tanpa tersentuh
oleh tangan para kapitalis. Dengan sangat tegas sekali pak Jidan selaku orang
yang dipercaya mengemban tugas untuk menjadi pelecut semangat mereka dalam
mempertahankan sisa kearifan sosial lokal yang ada ini. selain mempertahankan
dan menjaga Hutan Adat Gunung Lumut ini sebagai kekayaan mereka,
masih ada juga berapa tata cara kehidupan yang dikaitkan dengan alam. Seperti disalah satu rumah yang didiami oleh guru pengabdi (seorang guru muda
yang baru bertugas) yang disediakan oleh warga (rumah eks warga yg tidak
ditinggali), saya menemukan sebuah peraga sesajen yang sudah dimantrakan,
tergantung pada tiang bulat melintang yang dulunya dipakai sebagai tiang untuk
menyangkutkan tali ayunan bayi. Bentuknya seperti anyaman kecil untuk menyimpan
sajen yang sudah di mantrakan/didoakan tersebut dan diberikan beberapa
kelengkapan lain berupa kayu atau tulang/kepala burung Enggang.
 |
| Boa Bebe Yang Digantung diatas ayunan Bayi |
Nama peraga
atau sesajen ini Boa Bebe (berdasarkan penuturan Bapak Jidan) yang berfungsi
sebagai pelindung bayi yang masih suci dari gangguan mahkluk diluar manusia
(jin, setan dan lain sebagainya) dan ada juga peraga lain digantung persis sama
diatas gantungan ayunan bayi tersebut (masih menjadi bagian Boa Bebe) yaitu
anyaman dari daun kelapa serta beberapa dedaunan lain yang diperuntukan sebagai
pemberi hal positif kepada bayi. Kesemua itu mempunyai arti dan makna dalam
kepercayaan mereka, Sekilas dijelaskan oleh Bapak Jidan bahwa Kepala burung
Enggang dimaksudkan agar nantinya Bayi yang diberi gantungan memiliki sifat
seperti Burung Enggang seperti Lambang Kebijaksanaan, Kesetiaan,
Keagungan dan bersahaja. Begitu juga dengan Daun Kelapa yang melambangkan bahwa
sifat pohon kelapa yang bermanfaat dari akar, batang, mayang (bakal
buah), buah, daun serta lidinya, dengan harapan bahwa bayi tersebut jika sudah
dewasa dapat bermanfaat kehidupannya bagi masyarakat setempat begitu juga
dedaunan lainnya yang melambangkan pepohonan di Hutan Adat Gunung Lumut
yang dapat memberikan sumber kehidupan. Namun beda halnya dengan sajen yang
disimpan dalam anyaman bambu yang telah dimantrai/didoakan tersebut dimaksudkan untuk melindungi bayi
tersebut selama diayunan.
selain kepercayaan pada alat peraga yang melindungi, mereka juga masih menggunakan beberapa cara membaca kode-kode atau tanda-tanda yang diberikan oleh alam disekitar mereka, disana mereka akan
memprediksikan bahwa akan terjadi sesuatu jika ada tanda-tanda tertentu seperti ketika
ada bunyi dari binatang malam tertentu (yang jarang didengar) disekitar rumah
mereka dianggap sebagai pertanda sesuatu. Tidak itu saja mereka mempercayai
bahwa pada bulan-bulan tertentu mereka melakukan pantangan kampung untuk tujuan
tertentu seperti akan membuka ladang. Ada beberapa pantangan yang harus ditaati
oleh mereka, salah satunya adalah selama masa pantangan tersebut untuk tidak
memasuki hutan Adat Gunung Lumut, jika ada yang melanggar maka disekitar Hutan
Adat maupun wilayah mereka akan dituruni hujan terus menerus, hal ini
mengakibatkan terganggunya proses pembukaan ladang (penebangan dan membakar
ladang). Beginilah kearifan Lokal masyarakat yang masih terjaga dan cara mereka
memelihara Hutan Adat. Setelah mendengarkan pemaparan pak Jidan dengan seksama dan antusias (cerita itu diakhiri Bapak jidan karena beliau harus kesalah satu rumah warganya untuk merundingkan kegiatan malam nantinya), saya dan beberapa Tim Jejak Budaya pun bergegas mendirikan
kerangka layar untuk pemutaran film untuk malam harinya (film bersifat Edukasi bagi warga untuk tetap mencintai NKRI meski berada jauh dari pusat pemerintahan dan modernisasi). Setelah pemasangan kerangka itu selesai maka kami lanjutkan
dengan mempersiapkan diri masing-masing untuk acara malamnya.
Tak
terasa matahari pun makin merendah seolah akan tenggelam di balik perbukitan,
kami bergegas ke sungai Muluy untuk mandi dan membersihkan peralatan masak.
Bercanda gurau tak bisa dielakan oleh semua anggota yang sudah mulai akrab,
sehingga tercetus bahasa olok-olokan untuk mereka yang perutnya maju alias
buncit.
 |
| Awal tercetusnya ALIANSI PERUT MAJU (APM) hehehehe |
Setiap yang berbadan tambun dan perut buncit dikategorikan APM (apa itu
APM ?....hehehehe...APM = ALIANSI PERUT MAJU). APM ini tercetus oleh Ujang
salah satu anggota Jejak Budaya yang tergolong paling gokil. Setelah senda
gurau dan kehebohan tercipta sebagai pengiring sore di sungai muluy, satu
persatu membersihkan diri dan pergi meninggalkan sungai. Sesampainya ditempat camping, masing-masing dari kami mempersiapkan diri
untuk acara ramah tamah dengan warga setempat. Matahari pun makin pelit
memberikan cahayanya dan menyembunyikan diri dibalik bukit seolah akan
beristirahat setelah seharian menerangi bumi dan berganti gelap malam. Lampu
generator kampung sudah dinyalakan sehingga mulai menerangi kampung sekitar (ouh
ya lampu generator dihidupkan pada jam-jam tertentu saja yaitu pada malam hari
dari pukul 18.00 – 23.00 Wita) warga sudah mulai berkumpul di tengah
kampung tepat dihadapan settingan layar putih untuk pemutaran film (ketika masih kecil kami menyebutnya layar tancap. hehehehe).
Untuk
mempersingkat waktu, acara dimulai oleh ketua Jejak Budaya yaitu bang Cikal
dengan kata sambutannya dan menjelaskan maksud serta tujuan Jejak Budaya mengunjungi Kampung Muluy ini. setelah
selesai memberikan kata sambutan acara dimulai dengan memutar dokumenter
terbentuknya Tim Jejak Budaya ini, tak berapa lama setelah pemutaran film
dokumenter tim Jejak Budaya memberikan sumbangan berupa peralatan alat tulis
dan pakaian layak pakai sumbangan dari anggota yang ikut dalam kegiatan ini dan
tak lupa sesi foto penyerahan sumbangan dan foto bersama warga dan Tim Jejak
Budaya. Acara ini ditutup dengan sesi foto bersama dan dilanjutkan dengan film
bertema cinta tanah air yang berjudul Tanah Surga (Katanya) yang
dibintangi oleh Ringgo Agus Rahman, Astri Nurdin, Osa Aji Santoso dkk, film ini
berlatar belakang di daerah perbatasan RI - Malaysia tepatnya di kabupaten
Sambas. Selesai pemutaran film ini acara dilanjutkan dengan persembahan tarian
dari warga kampung Muluy yang diiringi musik gambus dan gendang yang sederhana.
 |
| Tarian Selendang Mutiara |
 |
| Tarian kedua Tarian Selendang Mutiara |
Tarian yang disuguhkan mereka merupakan tarian penyambutan dan tarian
persahabatan, tarian penyambutan ini mereka sebut Tarian Selendang Mutiara.
Sebenarnya tidak ada perbedaan antara kedua tarian ini dari segi gerak namun
dari segi personil tari terdapat perbedaaan jumlah. Tarian Selendang Mutiara
ini ditarikan oleh dua atau 4 penari (sewaktu disana ada dua kelompok penari
masing-masing beranggotakan 2 orang) yang mana ditarikan oleh gadis atau
perempuan. Sedangkan tarian persahabatan yang gerakannya sama dengan Tarian
selendang Mutiara namun ditarikan oleh lelaki dan perempuan dengan mengajak
beberapa tamu untuk ikut menari bersama mereka. Ouh ya, sebagai informasi
tarian selendang Mutiara ini merupakan tarian yang sudah sangat jarang
ditampilkan lagi oleh mereka bahkan tarian ini hampir punah karena dari tahun
1980an baru tahun 2010 keatas mereka mencoba menampilkannya lagi jika ada rombongan
tamu yang berkunjung (sebagai informasi kampung ini sering didatangi oleh para
peneliti budaya maupun lingkungan hidup) sehingga tarian ini dihidupkan
kembali. Dan dengan bangganya kami disuguhi tarian ini meski dengan pengemasan
yang sangat sederhana tetapi bermakna istimewa bagi kami terutama saya pribadi.
Pada saat tarian persahabatan tak ketinggalan saya dan rekan-rekan yang lain
ditarik untuk ikut tergabung menari bersama mereka. Keseruan pun menjadi pecah
dan keceriaan terpancar dari orang-orang
yang berkumpul. Keceriaan makin bertambah ketika salah satu anggota
jejak budaya mengajak nenek-nenek tua yang merupakan penari lama untuk ikut
menari bersama, terlihat memang gerakan antara penari lama dan penari baru
tetapi tidak menjadi soal karena hal istimewa sudah tersuguh oleh mereka dengan
kesederhanaan namun sangat bermakna. Setelah tarian persahabatan selesai
ditarikan, dan itu merupakan tarian penutup pada acara ramah tamah malam itu.
Sebuah kenangan yang begitu mempesona bagi saya pribadi.
 |
| Saat seorang Nenek bersenandung diiringi Musik seperti Gambus |
Ouh ya ada yang lupa
untuk tarian tersebut diselingi dengan senandung dari seorang nenek yang
notabene adalah Ibundanya bapak Jidan. Senandung yang sangat syahdu dan terasa
sekali kekhasan senandung lama dari suara nenek tersebut (sangat luar biasa
bisa melihat tarian yang hampir habis dimakan jaman kembali dimunculkan).
Acarapun berakhir tetapi keceriaan masih terasa antara kami yang membaur dengan
warga Muluy. Malam makin larut dan acara pun berhenti total ketika generator
listrik dimatikan karena sesuai jadwal hidupnya penerangan, kesemuanya
memberesi peralatan dengan segera mengakhiri malam yang luar biasa itu dengan
istirahat karena keesokan harinya sebelum acara perpisahan masih akan diadakan
beberapa kegiatan yaitu pengambilan foto untuk dokumentasi dan membersihkan
kampung dari sampah plastik atau sampah tak terurai.
 |
| Sesi membersihkan sampah plastik (tak terurai) di kampung |
Keesokan
harinya kami bersiap untuk melaksanakan satu sesi kegiatan bersama yaitu
membersihkan kampung dari sampah yang tak terurai dan beramai-ramai turun untuk
melakukan kegiatan terakhir sebelum acara perpisahan dengan warga, setelah itu
Tim Jejak Budaya mengajak penari Selendang Mutiara dengan busana tarian khas
warga Muluy (Pakaian saat menari selendang Mutiara) lengkap untuk pengambilan
foto dengan latar belakang sungai Muluy. Namun sebelum pengambilan foto
dokumentasi saya yang menjadi ojek untuk mengantar para penari itu ke lokasi
pengambilan foto, sembari "mengojek" saya bertanya tentang makam tua yang ada di kampung ini dan dengan senang hati
salah satu penari yang saya bonceng bercerita tentang makam tua yang ada.
Dan dia bersama teman penari lainnya pun bersedia mengantarkan saya dan
beberapa rekan saya untuk memasuki lokasi pemakaman yang satu jalur dengan
lokasi pemotretan. Ada beberapa pemakaman dari orang-orang tua (makam tua) yang
saya abadikan karena saya anggap ini menarik dan jarang ditemui. Tak beberapa
lama kami kembali ke lokasi pemotretan, selang berapa lama kami meninggalkan
lokasi pemotretan itu karena tugas kami hanya mengantar saja. Kamipun yang
bertugas mengantar bergegas untuk segera kembali ke lokasi camping untuk
membereskan semua perlengkapan karena setelah pemotretan kami harus segera
melakukan acara perpisahan dengan warga. Tak lama kemudian setelah kami
membersihkan semua yang ada dan sampah yang tersisa dilokasi camping, bang Cikal
dkk mengajak untuk melakukan kumpul bersama membentuk lingkaran sebagai acara
terakhir dari kegiatan ini sebelum berpamitan kepada warga setempat, sepatah
dua patah kata dari bang Cikal menutup kegiatan kunjungan kami ini dan tak lupa
ditutup dengan doa serta dilanjutkan dengan kegiatan bersalam-salaman antar
sesama peserta kegiatan.
 |
| Sesi Foto Tim Jejak Budaya di kampung Muluy |
Foto bersama peserta anggota Jejak Budaya pun tak
terelakkan sebelum meninggalkan lokasi camping untuk berpamitan pulang dengan
warga kampung dan dilanjutkan perjalanan pulang. Setelah jeprat-jepret selesai dan
semua peralatan sudah siap kamipun menghampiri warga kampung Muluy untuk
berpamitan. Semua anggota yang tergabung menyalami warga kampung tanpa
terkecuali begitu juga saya, dan saya memberi bapak Jidan sebuah kaos saya
sebagai kenang-kenangan bersama bapak Jidan dilanjutkan dengan saya
berfoto bersama bapak Jidan yang terlihat mengeluarkan mimik sedih ketika akan
berpisah. Dan kegiatan terakhir kami adalah berfoto bersama warga Kampung Muluy
dengan membentangkan spanduk kunjungan kami di kampung ini yang bertema MERAJUT
CINTA SESAMA ANAK NEGERI : KAMPUNG MULUY . Dengan berakhirnya foto
bersama, berat hati kami melambaikan tangan kepada kumpulan warga yang melepas
kami untuk meninggalkan kampung mereka, keadaan yang sangat emosional pada saat
menarik gas sepeda motor kami untuk meninggalkan kampung terpencil yang
mempunyai nilai seperti mutiara dalam mempertahankan yang tersisa. Kunjungan
yang sangat istimewa bagi saya, yang baru pertama kali mengunjungi kampung ini,
sebuah kampung yang jauh diujung bumi paser-kaltim terdapat suatu mutiara
kehidupan yang begitu banyak menyimpan harta karun, bagaimana mempertahankan
yang tersisa dan membuatnya menjadi berarti yang mampu menyedot perhatian
khalayak ramai dengan rasa empati kepada mereka. Terlebih lagi cara mereka
mempertahankan tetap alaminya Hutan Adat menyumbang kontribusi untuk dunia
penelitian baik dari peneliti lokal maupun Dunia. Sungguh terpesona saya
melihat semangat kampung Muluy untuk tetap mempertahankan dan menghidupkan
kembali kebiasaan lama yang memberi manfaat untuk mereka dan dunia penelitian. Kunjungan penuh arti dan diakhiri dengan lambaian masyarakat kampung dan gagahnya gunung lumut seakan tersenyum melepas kepergian kami yang seolah berkata pada kami untuk datang lagi karena kami belum bersatu dengan gunung tersebut (belum mendaki gunung lumut yang kami harapkan). Sebuah cerita perjalanan yang akan saya simpan untuk mengenang perjalanan saya di Bumi Paser.
Catatan
kecil : ouh ya berhubung ada pantangan
kampung ketika kami berkunjung kesana jadi kami tidak berhasil untuk naik ke
Gunung Lumut yang banyak menyimpan pesona alam dan keunikan hutan hujan tropis
dipuncak Gunung tersebut. Terdapat air terjun dilokasi pegunungan Lumut dan
keinginan untuk melihat tumbuhan yang batangnya diselimuti oleh lumut akibat
suhu yang sangat pas untuk berkembangnya kehidupan lumut. Padahal tujuan kami
yang pertama adalah melakukan treking di Gunung Lumut namun terbayar juga
dengan pelajaran tentang cara menjaga dan mempertahankan alam serta kearifan
lokal untuk menjaga yang tersisa. Kampung Muluy dan Pesonanya adalah hal yang
paling bermakna kami dapatkan (Kecewa tapi terobati). Suatu saat aku akan kembali
menuntaskan penasaran pada Gunung Lumut.
Terima
Kasih teman-teman Jejak Budaya, Tukang Jalan Tapi Kere, Jalan-jalan Paser, AMAN
Paser, MTMA Balikpapan dan MTMA Samarinda, Mapala Paser, para Aktivis, dan
rekan-rekan yang tergabung lainnya. Saya pribadi banyak belajar dari kegiatan
ini, semoga dengan semangat yang sama, kegiatan-kegiatan ini akan terus
berlanjut dan berkembang atas nama kepedulian kepada sesama. Salam dari saya
DAN, SANG JEJAK SETAPAK.....Kita akan bergabung pada kegiatan lain
berikutnya.....
SALAM BUDAYA, SALAM RESPEK, SALAM LESTARI,
SALAM PERSAHABATAN.
“MERAJUT
CINTA SESAMA ANAK NEGERI : KAMPUNG MULUY”
 |
KALTIM
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar