Minggu, 30 Oktober 2016

Kampung Muluy : Jalan-jalan dan Belajar Kepada Mutiara Yang Tak Tampak


Jejak juga disini, Bersama Tim Jejak Budaya Kaltim

   Jangan Hilang (Tradisi Hebatmu), Kampung Muluy



Foto Bersama Jejak Budaya Kaltim & Penduduk Kampung Muluy
    Kampung Muluy dimana itu? Pastinya sebuah pertanyaan yang akan terlontar jika mendengar nama itu. Kampung Muluy adalah sebuah kampung yang lumayan jauh dari keramaian, suasananya masih sangat erat dan mengandalkan alam sekitar. Lokasi kampung yang berada di lembah perbukitan dimana salah satunya adalah Gunung Lumut (sebuah wilayah yang memegang peran penting dalam kearifan Kampung Muluy). Kampung ini berada di wilayah Desa Suan Slotung, Kecamatan Muara Komam, Kabupaten Paser, Provinsi Kalimanan Timur. Jarak dari ibukota kabupaten Paser yaitu Tanah Grogot diperkirakan ± 120 Km, adapun jarak terdekat Kampung Muluy dengan desa induk (Suan Slotung) sekitar ± 18 Km (dengan jalan yang rusak parah ditambah jembatan penghubung yang roboh), sedangkan jarak dari Kampung Muluy dengan jalan raya beraspal sekitar ± 60 Km (ke arah simpang Lombok - simpang Pait sebagai Pusat perbelanjaan, wilayah Kec. Longikis) Hal ini memaksa penduduk kampung Muluy lebih memilih melakukan aktivitas perekonomian di daerah simpang pait Kecamatan Longikis.
   
Aliran Sungai Muluy
     Nama kampung Muluy diambil dari sebuah nama aliran sungai, yaitu Sungai Muluy yang terdapat di wilayah kampung itu, dimana sungai ini berperanan penting dalam kehidupan mereka. Hal ini terlihat dari beberapa aktivitas pokok penduduknya dalam hal sumber air bersih ataupun keperluan mandi, namun peran yang lebih menonjol dari sungai tersebut adalah sebagai mata pencaharian sebagian penduduk karena terdapat sumber daya alam, kandungan mineral emas. Dengan adanya potensi ini penduduk setempat tak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada, mereka melakukan penambangan secara tradisional untuk mata pencaharaian mereka selain karet. Proses penambangan disebut mendulang, adapun proses penambangan  tradisional ini, warga menggunakan sebuah alat berupa atau mirip wajan yang berdiameter kira-kira 60 cm yang biasa terbuat dari kayu atau dari pipa besar yang dibentuk sedemikian rupa menyerupai bentuk wajan. 
Warga yang mencari emas dengan alat sederhana bernama Dulang
Alat ini bernama dulang yang mana alat ini berfungsi untuk mengayak emas atau memisahkan emas dari pasir/tanah sebelum diberi air raksa (yg berfungsi untuk menyatukan bijih-bijih emas menjadi lempengan emas). Kegiatan ini dilakukan dengan cara mengambil pasir yang diperkirakan terdapat kandungan bijih emasnya dengan melihat tanda  tertentu dari pasir atau tanah tersebut, kemudian pasir dimasukan kedalam dulang dan diayak diatas air (sungai muluy). Tentunya kegiatan menambang secara tradisional (mendulang) ini hanya boleh dilakukan oleh penduduk setempat sedangkan orang luar daerah dilarang secara adat untuk melakukan penambangan disekitar kampung. Hal ini dimaksudkan agar yang memanfaatkan potensi alam disekitar wilayah kampung hanyalah penduduk asli, ini juga dimaksudkan agar tidak terjadi kerusakan alam dalam skala besar jika ada penambang dari luar yang notabene hanya menginginkan hasil saja tetapi tidak bertanggung jawab atas kerusakan parah yang ditimbulkan.
     Ketika berkunjung disana saya bersama-sama tim Jejak Budaya kalimantan Timur yang digawangi Bang Cikal dkk, saya tergabung dalam kumpulan Jejak Budaya sebagai partisipan saja pada kegiatan itu, selama 2 hari 2 malam kami berada di sana. Langsung saja kita cerita, ya? hehehe...ya, Tepatnya pada tanggal 16 september 2016 sekitar pukul 14.00 wita seperti tanggal yang disepakati bersama untuk keberangkatansemua rombongan berkumpul di simpang lombok desa simpang pait sebagai tempat starting point. Satu persatu pun merapat di tempat yang sudah ditentukan tersebut, setelah berkumpul dan perkenalan satu sama lain terjadi secara spontan antar peserta. Dari yang belum saling mengenal menjadi satu kesatuan, kita membaur dan mulai timbul keakraban diantara para peserta yang sama-sama akan berkunjung kesana. Pemuda dan pemudi dari berbagai daerah yang ada di kaltim pun ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut, ada dari rombongan Tenggarong, Samarinda, Balikpapan, Tana Grogot, Batu Kajang, Bontang dan saya bersama Albert Venansius mewakili sahabat-sahabat Kalbar (hehehehehe padahal saya stay di Samuntai sebuah desa wilayah Kab. Paser sedangkan Albert stay di Balikpapan tapi memang kami dari kalbar yang ketemu di perantauan Kaltim ini). Dari bebagai asal para pemuda yang ambil bagian dalam kegiatan tersebut membaur menjadi satu kesatuan Jejak Budaya Kaltim. Namun pada hari keberangkatan tersebut Tim utama Jejak Budaya (bang Cikal dkk) berangkat belakangan dikarenakan mempersiapkan beberapa peralatan yang masih belum rampung. Ouh ya, kegiatan ini sudah tercatat sebagai agenda wisata budaya karena hal ini melibatkan beberapa orang yang memang mempunyai akses untuk memperkenalkan pariwisata maupun budaya yang ada di Kaltim seperti melibatkan Duta Pariwisata Kaltim tahun 2016 dan Mister Indonesia Kaltim 2016 (Maaf  kalo salah Tahunnya, heee). Dimulai dari tempat starting point kami memulai perjalanan, tak terasa letih atau putus asa selama 3 jam perjalanan. Hal ini dikarenakan sepanjang perjalanan kami disajikan pemandangan alam yang jarang kami temui, kesemuanya menyegarkan  mata. Dalam perjalanan ini kami mengikuti jalan tanah yang sedikit berbatu dengan jalan berkelok dan terkadang kami berjalan diatas bukit yang tinggi dimana sisi kanan adalah jurang yang sangat curam. Sesekali kami temui burung Enggang bertenger atau terbang di antara pepohonan yang tinggi menjulang. Ouh ya ada pula suatu pemandangan yang menyedot perhatian kami ketika melintasi sebuah bukit diseberang jalan, ya sebuah pohon yang berbeda diantara pohon lainnya. 
Warna daun yang langka, merah menyala
Sebuah pohon yang mempunyai daun berwarna merah menyala mencolok diantara warna daun yang lainnya. Daun berwana merah menyala notabene kontras dengan warna daun kebanyakan yang kita tahu berwarna hijau tua atau hijau muda. Lengkap memang perjalanan menuju ke kampung ini selain jalanan yang menantang, jalanan berlumpur, turun naik bukit, pemandangan alam liar yang mempesona dan keunikannya, serta (tentunya) aura kesegaran karena udara yang belum terkontaminasi. Tak terasa perjalanan yang kami tempuh, lelahpun terbayarkan bahkan masih menyisakan semangat membuncah untuk segera menyelesaikan perjalanan sampai pada tujuan kami yaitu Kampung Muluy.
  


    Keseruan itu terbayar ketika tepat pukul 18.13 Wita, kami sudah menuntaskan perjalanan dan sampai di tempat tujuan dengan selamat. Sesampainya disana kami langsung diarahkan untuk menemui bapak Jidan di kediamannya, yah sekali lagi kami tercengang karena lokasi rumah bapak ketua adatnya tepat berada di atas perkampungan atau dataran lebih tinggi yang mana tepat di halaman rumah beliau kami sudah bisa melihat setengah dari kampung Muluy.
Lokasi Halaman Rumah Ketua Adat (Bapak Jidan)

Setelah menemui bapak Jidan, beberapa teman sebagai perwakilan melakukan pertemuan singkat dengan beliau untuk mendengarkan hal-hal yang diperbolehkan atau pantangan di kampung Muluy. Negosiasi pun berlanjut sekitar 15 menit lamanya, dengan keputusan bahwa kami hanya dipersilahkan untuk memasang dome atau tenda disekitar halaman rumah atau lokasi kosong disekitar lingkungan perumahan warga, diluar dari itu kami tidak diperbolehkan karena jika terjadi hal yang tak diinginkan mereka tidak bertanggung jawab (karena ada pantangan adat dari adat kampung pada saat itu). Berdasarkan kesepakatan, kami semua sepakat untuk memasang dome hanya diseputaran lingkungan rumah ketua adat (Bapak Jidan). Satu persatu dome kami pasang dan beberapa perempuan dengan naluri kewanitaanya memasak untuk keperluan isi perut, setelah kesemua dome terpasang, barulah dimulai dengan acara bebas pada malam pertama kedatangan dikampung ini. Ada yang bermain gitar lele nya si Albert, ada pula yang bercengkerama satu sama lain sembari mengenal diantara anggota lebih dalam. 
M. Nafis (Aman Paser), V. Albert, Saya, S. Amin (Aman Paser), Freddy (BA dan Blogger)
Saya juga tak mau ketinggalan untuk mengenal anggota lainnya, mulai dari berkenalan dengan teman-teman pejuang masyarakat Adat Paser (AMAN Paser) yaitu Muhammad Nafis dan Syukran Amin yang keduanya merupakan saudara yang sangat akrab dan kompak. Salut untuk kedua sahabat baru saya ini, berjuang untuk memperjuangkan hak-hak masyarakat Adatnya. Selain kedua sahabat baru ini saya juga berkenalan dengan saudari Emy Erfansyah salah satu aktivis peduli budaya dan kesenian Paser, semangat dari ibu muda ini juga memotivasi saya untuk semakin antusias dalam kegiatan ini. selain teman-teman dari Paser ada juga teman-teman dari JB (Jejak Budaya kaltim) kang Juned, Upik, doni (sesama milanisti juga ternyata, hehehe) dan wulan dari Tukang jalan tapi kere, Arya dan Dony Lung rekan-rekan dari My Trip My Adventure (MTMA) Balikpapan dan Samarinda, serta Mapala Paser yang kesemuanya sangat asik dan welcome. Malam semakin larut dengan cuaca khas perkampungan lembah perbukitan yang dingin, satu persatu dari kami mulai memasuki dome atau tenda. Begitu juga saya dan Albert yang tendanya dipinjamkan kepada teman-teman perempuan yang tidak membawa tenda sehingga kami tidur beralaskan hamparan karpet bersama lelaki-lelaki tangguh lainnya (hehehehe tidur beratap langit). Dengan tidak mau ketinggalan saya memasang sleeping bag dan kupluk untuk menyiasati cuaca dingin dikampung Muluy. Suasana semakin senyap seiring larutnya malam ditambah keheningan yang mengiringi malam pertama kami di kampung ini, dan malam pun berganti disambut fajar.
   
Pose di waktu matahari mengintip tepat di atas G. Lumut
Fajar yang mulai merekah, langit yang juga terlihat mulai mengintipkan sinar mentari, seperti sebuah harapan yang timbul. Kombinasi langit dan sinar mentari menciptakan keindahan langit pagi,  beberapa dari teman-teman ada yang menjalankan sholat subuh, suasana yang tadinya lengang mulai terlihat ada pergerakan aktivitas. Sesaat suasana ini menjadi sedikit ramai dan saya pun terbangun dengan menyisakan kemalasan bangun tidur, sebagian dari para ladies ada yang sudah memulai memasak air panas untuk menyeduh minuman sachet yang dibawa masing-masing. Saya tidak mau melewatkan momen ini, dengan menghampiri tas/karier, saya buka saku depan tempat dimana menyimpan perbekalan, kemudian saya ambil beberapa minuman sachet tersebut dan minta bantuan untuk diseduhkan (qiqiqiqi asik serasa ada asisten pribadi). Pagi dan segelas kopi sachet turut menghangatkan suasana kebersamaan kami di kampung Muluy ini. Entah terkena sindrom selfie atau sayang melewatkan keindahan pagi dengan kombinasi sinar mentari yang merekah (memerah lembut khas langit pagi) kami berpose ria dalam keadaan belum mandi (tapi tetap ganteng dan cantik-cantik, hehehehe).  Tak berapa lama rombongan bang Cikal dkk sebagai anggota utama Jejak Budaya Kaltim dan diikuti teman-teman jalan-jalan Paser dibelakangnya pun tiba. Semakin rame dan memecahkan kegaduhan pagi yang terbiasa lengang. Sepi menjadi gaduh dengan bertambahnya personil yang baru sampai ini, ada mimik kegembiraan satu sama lain dikarenakan mereka yang punya gawean sudah hadir. Tak lama setelah kedatangan bang cikal dkk Saya dan si albert serta beberapa teman lainnya bergegas untuk mandi dan (maaf) buang hajat diseputaran aliran sungai Muluy, hal ini kami lakukan karena ketersediaan WC umum yang hanya satu (antri yang lumayan lama sedangkan perut sudah berontak mau dikosongkan, heeee). Ada hal menarik ketika saya membuang air, ya, lipatan samping antara kaki dan paha sebelah kanan atas saya di hinggapi 3 ekor pacet (sejenis lintah kecil yg menghisap darah). Dengan penuh kaget saya lepas satu persatu pacet yang menempel, ada yang sudah membesar badannya karena mungkin telah lama menyedot darah. Sebenarnya saya paling geli melihat pacet yang licin berlendir tapi berhubung saya sendiri yang mengalaminya sehingga saya beranikan diri melepaskannya satu persatu. Sontak beberapa teman ada yang terbahak mendengar kejadian ini dan ternyata teman saya yang bernama Arya dari MTMA Balikpapan juga mengalami hal yang sama tetapi pacetnya belum sampai menempel di kulit hanya disendalnya saja. Setelah selesai dengan urusan pacet saya mandi dan bersih-bersih diri begitu juga teman-teman lainnya (diselingi banyolan-banyolan konyol khas anak muda). Sesudah mandi kami kembali ke tenda untuk mengganti baju, dan beberapa ladiesnya sudah melakukan tugas mereka yaitu memasak untuk makan sarapan plus makan siang (hehehehe, sarapan dan makan siangnya dirapel). Rombongan memasak ini diketuai oleh mba Emy Efansyah dan beberapa sahabat Mapala Paser lainnya sedangkan rombongan lainnya memasak sendiri-sendiri, tetapi ada sedikit trouble atau kendala dalam memasak nasi dari teman-teman Paser yaitu beras yang dimasak volumenya kebanyakan sedangkan air untuk menanak nasi itu lebih sedikit sehingga perbandingannya tidak sesuai antara air dan beras (hal ini karena
belum terbiasanya mereka memasak dengan wadah penanak nasi menggunakan kayu bakar dan penanak nasi khas perkampungan). Naluri saya yang juga hobby memasak tersentuh untuk membantu, dengan sedikit kesigapan saya ikut membantu memasak nasi ini. saya pun melihat bahwa takaran beras didalam wadah harus dikurangi sedangkan air untuk memasaknya harus ditambah dengan sedikit menurunkan jarak antara api dan wadah memasak agar perapiannya sesuai untuk panas api. Alhasil, nasi yang ditanak ini berhasil matang dengan baik dan kendala pun bisa diatasi untuk pagi ini. saya senang melihat kekompakan dari teman-teman baru ini, sementara kami membereskan penanakan nasi yang hampir gagal, beberapa teman lainnya berinisiatif memasak sayur dan lauk yang ada sehingga nasi siap disajikan begitu juga lauk pauk sudah siap.
Makan Bersama teman-teman Jalan-jalan Paser
Ketika semuanya sudah siap dan matang, nasi dan lauk pauk yang sudah siap disantap diletakkan pada hamparan daun pisang yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Hal yang paling seru pun terjadi dengan mengatur posisi duduk (jongkok) dilanjutkan berdoa sesuai keyakinan masing-masing, santap makan rapelnya pun dimulai tanpa ada yang merasa jijik atau malu ketika makan bersama khas anak alam yang mengutamakan kebersamaan dan kekompakan (gak jelas entah sarapan atau makan siang, wkwkwkwkwk).
    Sinar mataharipun mulai menyengat pertanda siang hadir, berhubung kegiatan akan dilaksanakan pada sore hingga malam hari maka untuk siang ini diisi dengan acara bebas. Dengan cuaca yang sedikit hot, masing-masing dari kami mengamankan diri mencari tempat teduh, begitu juga saya yang berteduh dirumah kosong seputaran tenda. Makin siang makin terasa matahari menyengat kuat dikulit, beberapa teman bergelantungan  memasang hammock yang diikat kedua ujungnya pada pohon satu ke pohon lainya diseputaran tempat ngecamp sedangkan sebagiannya lagi membaur dengan penduduk kampung Muluy. Tak lama kemudian saya bersama rekan baru dari komunitas MTMA Balikpapan (Arya) beranjak dari tempat berteduh dan hendak bergabung dengan beberapa teman yang sudah lebih duluan membaur dengan penduduk. Setelah sampai pada sebuah warung disana kami temui ada beberapa teman yang bercengkerama sembari menikmati jajanan yang disediakan oleh warung tersebut.
Bercerita bersama Pak Jidan
Disamping itu juga ada Bapak Jidan selaku ketua adat setempat berbagi cerita tentang kearifan lokal kampung muluy. Beliau mengisahkan tentang bagaimana warga kampung dan ketua adat tetap bertahan pada sisa-sisa kearifan lokal yang masih tersisa. Ya dikatakan sisa-sisa kearifan lokal karena hanya beberapa saja yang memang masih dipertahankan sedangkan yang lainnya ditelan oleh perkembangan jaman dan masuknya agama baru. Ada kesedihan di raut wajah pak Jidan yang menceritakan hal itu, bagaimana tidak tradisi turun temurun yang merupakan warisan leluhur menjadi hilang dan tidak ada penerus untuk melanjutkan. Tersisa hanya instrumen-instrumen/peraga, atribut ataupun cerita saja mengenai tradisi yang sudah beralih itu. Tradisi tersebut hilang karena pengaruh budaya Agama yang sedikit bertentangan dengan tata cara mereka ketika masih mempertahankan tradisi tua itu atau sudah tidak sesuai jamannya lagi. Tradisi dalam hal ini adalah hal-hal yang berbau dengan Kepercayaan Animisme dan Dinamisme, untuk Animisme sudah hilang dan tak membekas sama sekali namun berbeda halnya dengan kepercayaan Dinamisme disana masih ada yang dipertahankan. Kepercayaan Dinamisme ini tampak jelas dari cara mereka mempertahankan Hutan Adat Gunung Lumut yang dipercaya mereka adalah ibu bagi masyarakat muluy. Saya tidak tahu persis mengapa Gunung lumut dianggap sebagai ibu bagi mereka namun berdasarkan pemaparan pak Jidan bahwa Gunung Lumut disakralkan demikian karena gunung tersebut memegang peranan penting dalam kehidupan mereka, kenapa begitu sakral? Hal ini dikarenakan mereka memperoleh berbagai sumber alam dari hutan Adat tersebut. Selain analogi pertama analogi lainnya adalah para leluhur mereka membuat Paradigma tentang Gunung lumut sebagai ibu bagi mereka karena seorang ibu akan menjaga anak-anak mereka (penduduk Kampung Muluy) dan begitu juga sebaliknya anak-anak (Penduduk Kampung Muluy) tidak mungkin untuk menyakiti ibunya sendiri. Saya sempat tergugah dengan dua Analogi hebat dari kampung ini, mengapa demikian? Karena menurut saya analogi kedua yang sangat menyentuh dan jadi pembelajaran untuk kita. Analogi kedua ini erat hubungannya dengan Simbiosis Mutualisme (Hubungan saling menguntungkan) yang mana Gunung Lumut menyediakan beberpa kebutuhan hidup penduduk dan penduduk tetap mempertahankan kaeasrian atau alaminya Gunung Lumut itu sendiri tanpa tersentuh oleh tangan para kapitalis. Dengan sangat tegas sekali pak Jidan selaku orang yang dipercaya mengemban tugas untuk menjadi pelecut semangat mereka dalam mempertahankan sisa kearifan sosial lokal yang ada ini. selain mempertahankan dan menjaga Hutan Adat Gunung Lumut ini sebagai kekayaan mereka, masih ada juga berapa tata cara kehidupan yang dikaitkan dengan  alam. Seperti disalah satu rumah yang  didiami oleh guru pengabdi (seorang guru muda yang baru bertugas) yang disediakan oleh warga (rumah eks warga yg tidak ditinggali), saya menemukan sebuah peraga sesajen yang sudah dimantrakan, tergantung pada tiang bulat melintang yang dulunya dipakai sebagai tiang untuk menyangkutkan tali ayunan bayi. Bentuknya seperti anyaman kecil untuk menyimpan sajen yang sudah di mantrakan/didoakan tersebut dan diberikan beberapa kelengkapan lain berupa kayu atau tulang/kepala burung Enggang. 

Boa Bebe Yang Digantung diatas ayunan Bayi
Nama peraga atau sesajen ini Boa Bebe (berdasarkan penuturan Bapak Jidan) yang berfungsi sebagai pelindung bayi yang masih suci dari gangguan mahkluk diluar manusia (jin, setan dan lain sebagainya) dan ada juga peraga lain digantung persis sama diatas gantungan ayunan bayi tersebut (masih menjadi bagian Boa Bebe) yaitu anyaman dari daun kelapa serta beberapa dedaunan lain yang diperuntukan sebagai pemberi hal positif kepada bayi. Kesemua itu mempunyai arti dan makna dalam kepercayaan mereka, Sekilas dijelaskan oleh Bapak Jidan bahwa Kepala burung Enggang dimaksudkan agar nantinya Bayi yang diberi gantungan memiliki sifat seperti Burung Enggang seperti Lambang Kebijaksanaan, Kesetiaan, Keagungan dan bersahaja. Begitu juga dengan Daun Kelapa yang melambangkan bahwa sifat pohon kelapa yang bermanfaat dari akar, batang, mayang (bakal buah), buah, daun serta lidinya, dengan harapan bahwa bayi tersebut jika sudah dewasa dapat bermanfaat kehidupannya bagi masyarakat setempat begitu juga dedaunan lainnya yang melambangkan pepohonan di Hutan Adat Gunung Lumut yang dapat memberikan sumber kehidupan. Namun beda halnya dengan sajen yang disimpan dalam anyaman bambu yang telah dimantrai/didoakan tersebut dimaksudkan untuk melindungi bayi tersebut selama diayunan.
selain kepercayaan pada alat peraga yang melindungi, mereka juga masih menggunakan beberapa cara membaca kode-kode atau tanda-tanda yang diberikan oleh alam disekitar mereka, disana mereka akan memprediksikan bahwa akan terjadi sesuatu jika ada tanda-tanda tertentu seperti ketika ada bunyi dari binatang malam tertentu (yang jarang didengar) disekitar rumah mereka dianggap sebagai pertanda sesuatu. Tidak itu saja mereka mempercayai bahwa pada bulan-bulan tertentu mereka melakukan pantangan kampung untuk tujuan tertentu seperti akan membuka ladang. Ada beberapa pantangan yang harus ditaati oleh mereka, salah satunya adalah selama masa pantangan tersebut untuk tidak memasuki hutan Adat Gunung Lumut, jika ada yang melanggar maka disekitar Hutan Adat maupun wilayah mereka akan dituruni hujan terus menerus, hal ini mengakibatkan terganggunya proses pembukaan ladang (penebangan dan membakar ladang). Beginilah kearifan Lokal masyarakat yang masih terjaga dan cara mereka memelihara Hutan Adat. Setelah mendengarkan pemaparan pak Jidan dengan seksama dan antusias (cerita itu diakhiri Bapak jidan karena beliau harus kesalah satu rumah warganya untuk merundingkan kegiatan malam nantinya), saya dan beberapa Tim Jejak Budaya pun bergegas mendirikan kerangka layar untuk pemutaran film untuk malam harinya (film bersifat Edukasi bagi warga untuk tetap mencintai NKRI meski berada jauh dari pusat pemerintahan dan modernisasi). Setelah pemasangan kerangka itu selesai maka kami lanjutkan dengan mempersiapkan diri masing-masing untuk acara malamnya.
     Tak terasa matahari pun makin merendah seolah akan tenggelam di balik perbukitan, kami bergegas ke sungai Muluy untuk mandi dan membersihkan peralatan masak. Bercanda gurau tak bisa dielakan oleh semua anggota yang sudah mulai akrab, sehingga tercetus bahasa olok-olokan untuk mereka yang perutnya maju alias buncit.
Awal tercetusnya ALIANSI PERUT MAJU (APM) hehehehe
Setiap yang berbadan tambun dan perut buncit dikategorikan APM (apa itu APM ?....hehehehe...APM = ALIANSI PERUT MAJU). APM ini tercetus oleh Ujang salah satu anggota Jejak Budaya yang tergolong paling gokil. Setelah senda gurau dan kehebohan tercipta sebagai pengiring sore di sungai muluy, satu persatu membersihkan diri dan pergi meninggalkan sungai. Sesampainya ditempat camping, masing-masing dari kami mempersiapkan diri untuk acara ramah tamah dengan warga setempat. Matahari pun makin pelit memberikan cahayanya dan menyembunyikan diri dibalik bukit seolah akan beristirahat setelah seharian menerangi bumi dan berganti gelap malam. Lampu generator kampung sudah dinyalakan sehingga mulai menerangi kampung sekitar (ouh ya lampu generator dihidupkan pada jam-jam tertentu saja yaitu pada malam hari dari pukul 18.00 – 23.00 Wita) warga sudah mulai berkumpul di tengah kampung  tepat dihadapan settingan  layar putih untuk pemutaran film (ketika masih kecil kami menyebutnya layar tancap. hehehehe)

Untuk mempersingkat waktu, acara dimulai oleh ketua Jejak Budaya yaitu bang Cikal dengan kata sambutannya dan menjelaskan maksud serta tujuan  Jejak Budaya mengunjungi Kampung Muluy ini. setelah selesai memberikan kata sambutan acara dimulai dengan memutar dokumenter terbentuknya Tim Jejak Budaya ini, tak berapa lama setelah pemutaran film dokumenter tim Jejak Budaya memberikan sumbangan berupa peralatan alat tulis dan pakaian layak pakai sumbangan dari anggota yang ikut dalam kegiatan ini dan tak lupa sesi foto penyerahan sumbangan dan foto bersama warga dan Tim Jejak Budaya. Acara ini ditutup dengan sesi foto bersama dan dilanjutkan dengan film bertema cinta tanah air yang berjudul Tanah Surga (Katanya) yang dibintangi oleh Ringgo Agus Rahman, Astri Nurdin, Osa Aji Santoso dkk, film ini berlatar belakang di daerah perbatasan RI - Malaysia tepatnya di kabupaten Sambas. Selesai pemutaran film ini acara dilanjutkan dengan persembahan tarian dari warga kampung Muluy yang diiringi musik gambus dan gendang yang sederhana. 
Tarian Selendang Mutiara
Tarian kedua Tarian Selendang Mutiara

Tarian yang disuguhkan mereka merupakan tarian penyambutan dan tarian persahabatan, tarian penyambutan ini mereka sebut Tarian Selendang Mutiara. Sebenarnya tidak ada perbedaan antara kedua tarian ini dari segi gerak namun dari segi personil tari terdapat perbedaaan jumlah. Tarian Selendang Mutiara ini ditarikan oleh dua atau 4 penari (sewaktu disana ada dua kelompok penari masing-masing beranggotakan 2 orang) yang mana ditarikan oleh gadis atau perempuan. Sedangkan tarian persahabatan yang gerakannya sama dengan Tarian selendang Mutiara namun ditarikan oleh lelaki dan perempuan dengan mengajak beberapa tamu untuk ikut menari bersama mereka. Ouh ya, sebagai informasi tarian selendang Mutiara ini merupakan tarian yang sudah sangat jarang ditampilkan lagi oleh mereka bahkan tarian ini hampir punah karena dari tahun 1980an baru tahun 2010 keatas mereka mencoba menampilkannya lagi jika ada rombongan tamu yang berkunjung (sebagai informasi kampung ini sering didatangi oleh para peneliti budaya maupun lingkungan hidup) sehingga tarian ini dihidupkan kembali. Dan dengan bangganya kami disuguhi tarian ini meski dengan pengemasan yang sangat sederhana tetapi bermakna istimewa bagi kami terutama saya pribadi. Pada saat tarian persahabatan tak ketinggalan saya dan rekan-rekan yang lain ditarik untuk ikut tergabung menari bersama mereka. Keseruan pun menjadi pecah dan keceriaan terpancar dari orang-orang  yang berkumpul. Keceriaan makin bertambah ketika salah satu anggota jejak budaya mengajak nenek-nenek tua yang merupakan penari lama untuk ikut menari bersama, terlihat memang gerakan antara penari lama dan penari baru tetapi tidak menjadi soal karena hal istimewa sudah tersuguh oleh mereka dengan kesederhanaan namun sangat bermakna. Setelah tarian persahabatan selesai ditarikan, dan itu merupakan tarian penutup pada acara ramah tamah malam itu. Sebuah kenangan yang begitu mempesona bagi saya pribadi.
Saat seorang Nenek bersenandung diiringi Musik seperti Gambus
Ouh ya ada yang lupa untuk tarian tersebut diselingi dengan senandung dari seorang nenek yang notabene adalah Ibundanya bapak Jidan. Senandung yang sangat syahdu dan terasa sekali kekhasan senandung lama dari suara nenek tersebut (sangat luar biasa bisa melihat tarian yang hampir habis dimakan jaman kembali dimunculkan). Acarapun berakhir tetapi keceriaan masih terasa antara kami yang membaur dengan warga Muluy. Malam makin larut dan acara pun berhenti total ketika generator listrik dimatikan karena sesuai jadwal hidupnya penerangan, kesemuanya memberesi peralatan dengan segera mengakhiri malam yang luar biasa itu dengan istirahat karena keesokan harinya sebelum acara perpisahan masih akan diadakan beberapa kegiatan yaitu pengambilan foto untuk dokumentasi dan membersihkan kampung dari sampah plastik atau sampah tak terurai.
   
Sesi membersihkan sampah plastik (tak terurai) di kampung
Keesokan harinya kami bersiap untuk melaksanakan satu sesi kegiatan bersama yaitu membersihkan kampung dari sampah yang tak terurai dan beramai-ramai turun untuk melakukan kegiatan terakhir sebelum acara perpisahan dengan warga, setelah itu Tim Jejak Budaya mengajak penari Selendang Mutiara dengan busana tarian khas warga Muluy (Pakaian saat menari selendang Mutiara) lengkap untuk pengambilan foto dengan latar belakang sungai Muluy. Namun sebelum pengambilan foto dokumentasi saya yang menjadi ojek untuk mengantar para penari itu ke lokasi pengambilan foto, sembari "mengojek" saya bertanya tentang makam tua yang ada di kampung ini dan dengan senang hati salah satu penari yang saya bonceng bercerita tentang makam tua yang ada. Dan dia bersama teman penari lainnya pun bersedia mengantarkan saya dan beberapa rekan saya untuk memasuki lokasi pemakaman yang satu jalur dengan lokasi pemotretan. Ada beberapa pemakaman dari orang-orang tua (makam tua) yang saya abadikan karena saya anggap ini menarik dan jarang ditemui. Tak beberapa lama kami kembali ke lokasi pemotretan, selang berapa lama kami meninggalkan lokasi pemotretan itu karena tugas kami hanya mengantar saja. Kamipun yang bertugas mengantar bergegas untuk segera kembali ke lokasi camping untuk membereskan semua perlengkapan karena setelah pemotretan kami harus segera melakukan acara perpisahan dengan warga. Tak lama kemudian setelah kami membersihkan semua yang ada dan sampah yang tersisa dilokasi camping, bang Cikal dkk mengajak untuk melakukan kumpul bersama membentuk lingkaran sebagai acara terakhir dari kegiatan ini sebelum berpamitan kepada warga setempat, sepatah dua patah kata dari bang Cikal menutup kegiatan kunjungan kami ini dan tak lupa ditutup dengan doa serta dilanjutkan dengan kegiatan bersalam-salaman antar sesama peserta kegiatan. 

Sesi Foto Tim Jejak Budaya di kampung Muluy
Foto bersama peserta anggota Jejak Budaya pun tak terelakkan sebelum meninggalkan lokasi camping untuk berpamitan pulang dengan warga kampung dan dilanjutkan perjalanan pulang. Setelah jeprat-jepret selesai dan semua peralatan sudah siap kamipun menghampiri warga kampung Muluy untuk berpamitan. Semua anggota yang tergabung menyalami warga kampung tanpa terkecuali begitu juga saya, dan saya memberi bapak Jidan sebuah kaos saya sebagai kenang-kenangan bersama bapak Jidan dilanjutkan dengan saya berfoto bersama bapak Jidan yang terlihat mengeluarkan mimik sedih ketika akan berpisah. Dan kegiatan terakhir kami adalah berfoto bersama warga Kampung Muluy dengan membentangkan spanduk kunjungan kami di kampung ini yang bertema MERAJUT CINTA SESAMA ANAK NEGERI : KAMPUNG MULUY . Dengan berakhirnya foto bersama, berat hati kami melambaikan tangan kepada kumpulan warga yang melepas kami untuk meninggalkan kampung mereka, keadaan yang sangat emosional pada saat menarik gas sepeda motor kami untuk meninggalkan kampung terpencil yang mempunyai nilai seperti mutiara dalam mempertahankan yang tersisa. Kunjungan yang sangat istimewa bagi saya, yang baru pertama kali mengunjungi kampung ini, sebuah kampung yang jauh diujung bumi paser-kaltim terdapat suatu mutiara kehidupan yang begitu banyak menyimpan harta karun, bagaimana mempertahankan yang tersisa dan membuatnya menjadi berarti yang mampu menyedot perhatian khalayak ramai dengan rasa empati kepada mereka. Terlebih lagi cara mereka mempertahankan tetap alaminya Hutan Adat menyumbang kontribusi untuk dunia penelitian baik dari peneliti lokal maupun Dunia. Sungguh terpesona saya melihat semangat kampung Muluy untuk tetap mempertahankan dan menghidupkan kembali kebiasaan lama yang memberi manfaat untuk mereka dan dunia penelitian. Kunjungan penuh arti dan diakhiri dengan lambaian masyarakat kampung dan gagahnya gunung lumut seakan tersenyum melepas kepergian kami yang seolah berkata pada kami untuk datang lagi karena kami belum bersatu dengan gunung tersebut (belum mendaki gunung lumut yang kami harapkan). Sebuah cerita perjalanan yang akan saya simpan untuk mengenang perjalanan saya di Bumi Paser.    


Catatan  kecil : ouh ya berhubung ada pantangan kampung ketika kami berkunjung kesana jadi kami tidak berhasil untuk naik ke Gunung Lumut yang banyak menyimpan pesona alam dan keunikan hutan hujan tropis dipuncak Gunung tersebut. Terdapat air terjun dilokasi pegunungan Lumut dan keinginan untuk melihat tumbuhan yang batangnya diselimuti oleh lumut akibat suhu yang sangat pas untuk berkembangnya kehidupan lumut. Padahal tujuan kami yang pertama adalah melakukan treking di Gunung Lumut namun terbayar juga dengan pelajaran tentang cara menjaga dan mempertahankan alam serta kearifan lokal untuk menjaga yang tersisa. Kampung Muluy dan Pesonanya adalah hal yang paling bermakna kami dapatkan (Kecewa tapi terobati). Suatu saat aku akan kembali menuntaskan penasaran pada Gunung Lumut.

Dibuang Sayang :
Ekspresi Gila setelah menuntaskan perjalanan (Padahal masih 1/2 jam nyampe kampung, hihihihhi)

Foto bersama setelah penyerahan Donasi Pakaian layak Pakai
Tarian Persahabatan (bagian dari Tari Selendang Mayang)

Kata Sambutan Dari Bang CIkal (Ketua Jejak Budaya) membuka sesi ramah Tamah
Pemberian Buku Gratis untuk anak sekolah
Penari lama yang sudah sekian puluh tahun tidak menari (gerakannya saya suka, totalitas)
Itu yg pake sarung siapa ya?  MODUS wkwkwkwkw
Apa yang dilakukan Albert dan Dony Lung ini ? Entahlah hehehe
si Manda lagi nangkap Kodok, wkwkwkwkwk
Mukanyaaaaaa Upik , hihihihihi
mengunjungi Makam tua kampung Muluy (bersama penari selendang Mutiara)
Penunjuk arah angn milik bapak Jidan
Salah satu pemandangan yang jarang kami temui, rumah dibelantara

Anggrek Dendrobium Secundum, salah satu kekayaan alam Gunung Lumut 
Foto Bersama Bapak Jidan.
Senandung nyanyian pengiring Tarian selendang Mutiara

Terima Kasih teman-teman Jejak Budaya, Tukang Jalan Tapi Kere, Jalan-jalan Paser, AMAN Paser, MTMA Balikpapan dan MTMA Samarinda, Mapala Paser, para Aktivis, dan rekan-rekan yang tergabung lainnya. Saya pribadi banyak belajar dari kegiatan ini, semoga dengan semangat yang sama, kegiatan-kegiatan ini akan terus berlanjut dan berkembang atas nama kepedulian kepada sesama. Salam dari saya DAN, SANG JEJAK SETAPAK.....Kita akan bergabung pada kegiatan lain berikutnya.....

SALAM BUDAYA, SALAM RESPEK, SALAM LESTARI, SALAM PERSAHABATAN.


                      “MERAJUT CINTA SESAMA ANAK NEGERI : KAMPUNG MULUY”



KALTIM

  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar